Wednesday, January 15, 2014

Khayalan Si Bungul 2 (Kejutan Cinta)

Ini adalah cerita mirisku ketika aku duduk di bangku SMA. Perkenalkan namaku adalah Anwar Fakhrudin. Cerita ku dimulai di saat aku sedang mendengarkan radio. Kalau orang-orang pada sibuk dengan pacarnya di malam minggunya. Aku cuma sibuk dengan radio. Setiap malam minggunya aku selalu mendengarkan radio, siapa tau aja ada cewek yang nyebarin nomor. Tapi yang ku dengar dari zaman batu sampai sekarang cuma cowok-cowok fakir asmara yang nyebarin nomor. Tapi malam ini aku untuk pertama kalinya coba-coba buat nyebarin nomor ke radio. Dan aku beruntung banget. Ada cewek yang langsung ngehubungin aku. Namanya merlin. Aku pun berkenalan dengan dia. Suara cemprengnya itu sangatlah menggoda bagiku. Nah itulah awal mulanya aku berkenalan dengan seorang cewek yang bernama merlin itu. Gak usah berlama-lama, kita langsung aja ke cerita intinya.
Sebagai catatan penting aku adalah siswa yang paling terkenal di sekolah. Setelah keluar dari cengkraman pak satpam. Aku sudah di sambut dengan kedua orang berkacamata hitam.. mereka adalah anak buahku. “bos.. kalo bos jalan kaki nanti bakal capek.. ini saya siapkan kendaraan buat bos” Kata anak buah 1 “loh kan kelasku dekat aja jalan kaki bisa aja kok” balasku “Bukan begitu bos, takutnya bos nanti capek terus gak fokus belajar, jadi saya siapin kendaraan” kata anak buah 2.. “oke deh.. mana kendaraannya?” Dengan terpaksa aku mengikuti niat baik dari anak buahku. “hihihihi.. Asiknya punya anak buah.. mau masuk kelas aja persiapannya keren gini.. wah gila nih.. Mobil apa yah yang di pake?” Kataku dalam hati.
“ini bos kendaraan yang udah kami siapkan” kata anak buah 1 sambil menarik tirai. Aku jadi gugup dan penasaran apa yang telah di persiapkan anak buahku. Sedikit demi sedikit tirai itu terbuka. Dan setiap inci tirai yang dibuka membuatku sumringah. Dan saat tirai terbuka, jreeenngg, raut wajahku berubah jadi datar, hanya bisa ketawa kecil dengan paksa. Dibalik tirai itu adalah sebuah motor 2 Tak, keluaran 98, debunya masih melekat di motor sampai ada sarang semut, sarang laba-laba bahkan sarang kelelawar doyan banget hinggap di motor butut dan berkarat itu. Aku memanggil ke anak buahku.. “kalian ada palu gak” tanyaku kepada kedua anak buahku. “ada bos, ini palu yang beratnya 500 ton, gagangnya tebuat dari kayu kelas 1, lalu” belum selesai penjelasan dari anak buahku aku langsung memukul kepala mereka dengan palu yang besar itu. “Kalian mau buat aku malu ya? Motor butut ini kalian kasih aku” “oh kalo masalah malu, kami sudah antisipasi bos, ini pake aja bos” “celana dalam?” “iya bos.. biar malunya gak keliatan” “dasar goblok.. maksud aku itu mukaku. Mukaku bego” “oh berarti celana dalamnya aja yang di tempel di muka bos” “beggooo” “bos.. bos” Anak buah 2 ku memotong perdebatanku dengan anak buah 1 yang begonya selangit. “Pake ini aja bos” “kacamata hitam? Buat apa?” “biar bos kalau masuk sekolah gak ketahuan malunya bos” “nah.. ini idenya bagus nih”
Mau gak mau aku masuk ke sekolah dengan kacamata hitam. dengan style yang berantakan, seragam sekolah gak rapi kayak preman dengan motor bututku Ternyata gak membuat aku kehilangan aura ngartisku. Aura yang ku pancarkan membuat orang-orang yang ada di sekolah terpana. bahkan burung beonya pak satpam juga terpana.
“uhukk.. uhuk… wooiii… asap motoormuuu…!!!” saat aku parkir motor. Anak buahku sudah siap untuk mejagaku dari kerumunan wanita-wanita yang mengejarku. Yah biasalah itu fans-fans fanatikku. Kadang sangking antusiasnya untuk bisa minta tanda tanganku. ada tuh yang tawuran. Tawuran itu biasanya banyak memakan korban. Makanya di tengah lapangan banyak banget tim medis yang kerepotan ngurusin fans-fansku yang tumbang. Sangking terkenalnya aku, banyak media pers datang setiap aku berangkat sekolah. “bagaimana pendapatmu tentang Anwar?” kata seorang reporter kepada salah satu fansku “ihhh, Anwar itu imut banget” datang satu fans merebut mikropon “ubay itu ganteng banget” “imut..!! “ganteng” “eehhh loe ngajak kelahi ya” “hiaaatt @$#%$^&^$@##^” Dan begitulah kejadian yang setiap hari kulihat. Bukan cuma kaum hawa yang ngefans loh tapi ada juga ibu-ibu, Laki- laki, banci-banci, kakek-kakek. Nenek-nenek, om-om yang disana juga juga.. “eeeehhh.. kamu siapa” kata om-om lagi mandi. Karena aku bosan di kejar terus. aku naik ke atas dan mengambil alat pengeras suara di tasku. “hah, gergajii, loh kok palu, boneka barbie, bunglon.” “bos.. ini alatnya…!!!” teriak Anak Buahku memakai toaknya di telingaku ”ayayayayay… fuuuhhh… aku bisa tuli tau! dasar bodohh ciiaaat” siiuuunggg.. Anak buahku jatuh dari tingkat 2 sekolah.
“ehem.. ehem.. apa kabar semuanya.. I love u all” aku melempar alat pengeras itu… gedubrakkk… kena salah satu fans… tapi fans itu bisa bangkit lagi dengan benjol yang besar.. aku sempat kaget melihat itu.. tapi yang buat aku kaget… ada cewek yang datang ke arahku… bodinya se*y…wajahnya cantik.. tinggi semampai.. oh.. kayak aktris holywood gitu.. dia sama kayak aku… di kejar banyak cowok.. kalau dia sudah kibasin rambutnya ke arah cowok.. pasti langsung pingsan semua… dan pada saat dia di hadapanku.. dia kibasin rambutnya.. “loh kok kamu gak pingsan” aku diam dan langsung megang tangannya… “kau adalah wanita tercantik yang pernah ku temui… kau bagaikan bintang yang berkelip di mataku… aku tau aku mencintaimu..”
DAN JREEENG
“Anwaaaar! bangun! bisa-bisanya kamu tidur di pelajaran ibu ya!” “hah? Apa! mana wanita cantik itu tadi? heh wanita tua dimana kamu menyembunyikan putri yang cantik jelita itu?.” “Anwaaaar” teriakan ibu sampai memecahkan kaca kelas. sampai-sampai kacamata kepala sekolah juga ikut pecah, padahal dia lagi di ruangannya sambil tidur pulas di tahtanya. Aku memang suka tidur di kelas, soalnya aku suka merasa bosan. Apa yang di jelaskan oleh guru gak ada yang ngerti.. yaahhh, biasalah.. otakku itu kapasitasnya 64mb gak kayak anak yang duduk di central depan itu. Mukanya aja sudah kayak kutu, otaknya 1GB, bukunya yang di bawa tebal-tebal. kacamatanya aja bulat meyakinkan untuk jadi anak pintar. Hadeh.. aku mah gak mau jadi orang kayak gitu, cuper. Pasti hidupnya monoton. Tiap hari Cuma sekolah, pulang, belajar, tidur, habis itu sekolah lagi.
Seperti biasanya endingnya selesai ngerjain guru. Disuruh mengikuti kegiatan amal yang di selenggarakan oleh guru BP yaitu bersihkan toilet sekolah yang baunya super banget, kotoran dimana-dimana, bahkan kecoa-kecoa bisa main j*di disitu. Ini sih memang bukan pertama kalinya aku di ikut kegiatan amal. Masih banyak kegiatan amal yang lain. Gak bisa di sebutin satu-satu masalahnya kebanyakan. ibaratnya pasir di pesisir pantai, bila di hitung butuh ribuan tahun untung menyelesaikannya. hahahaha. Lebay!
Aku adalah murid ternakal di sekolah ku SMA 76. Sekolah yang punya beragam warna. Ada beberapa kumpulan disana.. kumpulan motor, kumpulan anak kuper, kumpulan alay, kumpulan bencong juga ada.. wew!
Nah seperti cewek anak kelas 2 Ipa 2 itu Putih, cantik.. bodynya se*y abis.. rambut panjang teruai hitam bercahaya menyilaukan mata. semua cowok di sekolah bilang kalau dia adalah cewek paling perpect di sekolah. Tapi kalau bagiku dia itu biasa aja. Yah gue anggap sih itu Cuma angin kentut yang biasa ku buang diam-diam. hha.. Dia artis di sekolah ini. Bisa di bilang dia adalah selebritis sekolah. Gak Cuma cantik, tapi denger-denger gossip dia juga punya suara merdu. Aku sih gak percaya masalahnya aku gak pernah denger. Namanya Rena Firdayati Samanta. Sudah berbagai jenis cowok yang sudah mencoba nembak dia. Tapi semuanya di tolak. Asal tau aja, Dulu sebelum masuk SMA ini, aku pernah ketemu dia di halte bus. Aku yang nolong dia waktu dia kecopetan. Gara-gara buru-buru takut terlambat tes. Aku berlari terus nabrak tuh pencopet. Pencopet itu langsung pingsan seketika. Aneh kan? Sudah jangan di pikirkan ntar jadi gila kayak aku. Hehehe. Aku ngeliat ada dompet yang terjatuh di dekat pencopet itu. Kuambil dompet itu lalu kubuka. Ternyata dompet itu kepunyaan seoarang cewek tidak lain adalah rena dan kebetulan dia berlari ke arahku. Ku berikan dompet itu kepada Rena lalu secepat kilat pergi meninggalkan dia. Masalahnya aku takut kalau terlambat ujian. Jadi aku langsung pergi gitu aja. Sempat suka sih. Tapi mau gimana lagi. Dia cantik gitu, cewek-cewek kelas tinggi, yang paling ganteng di sekolah aja di tolak. Apalagi aku yang pas-pasan gini. Pasti bakal bernasib sama dengan cowok-cowok lain. Walaupun dia cantik, kekurangannya ialah sombong, Setiap aku ngeliat dia, dia pasti langsung buang muka. Hadeh. PARABET.. PARAh BangET.
Oke kita lanjut ke ceritaku.. saat ini aku duduk di kelas 2 IPS 5. kelas paling jorok di antara kelas lain dan yang pasti di sana adalah kelas yang paling bikin guru-guru gak mau masuk… anak-anak suka banget ngerjain guru.. aku ketuanya kalau masalah ngerjain guru-gurunya… hahahaha… di dalam kelas kami ada juga orang-orang yang aneh.. dari 25 siswa di kelasku.. ada 4 orang yang paling menonjol.. seperti lutfi.. dia adalah seorang ketua kelas.. dia terpilih jadi ketua kelas karena dia dekat sama semua cewek yang ada di kelas.. kebiasaannya di kelas itu maen hape, dengerin music, dan begitu seterusnya sampai bel berbunyi. Flat banget yah. Tapi jangan salah dia begitu handal dalam urusan berbicara. dari gossip, bicara selebritis, bola, makanannya sehari-hari tuh. Lalu ada si culun namanya pandu. Nah, itu tadi yang ku ceritakan tadi. Dia selalu membawa buku pelajarannya kemana-kemana. bahkan sedang buang air besar. Kalau mau cari dia itu gampang. tengok aja ke perpustakaan. Pasti ketemu tuh batang hidungnya.. lalu ada si pak tua, Namanya riko. Badannya kekar, terus mukanya itu tua banget. Kalau di lihat facenya itu gak cocok sama anak SMA, Cocoknya dia itu sudah punya 2 cucu. Terus expresi mukanya itu datar banget. Kalau dia ngomong pasti di irit, seperlunya aja. Dengan raut wajahnya yang aneh itu.. ploonng.. kayak aspal jalan tol.. yang pasti orang-orang yang ngomong sama dia pasti bakal bosen.. sekali-kali ngomong “mukanya tua” di depannya.. wah.. bakalan panjang urusannya.. terakir kali seorang siswa yang ngomong kayak gitu langsung di lempar dari kelas.. wieh serem gan.. nah.. jangan lupa yang satu ini, di kelas itu aku punya patner terbaik.. namanya Raden mas joko diningro pramudi.. apa ya, aku lupa lanjutan namanya… namanya itu panjang banget sih, nama gaulnya jack.. tapi tetap aja aku manggil dia joko.. dia itu murid ternorak di sekolah, raja gombal, muka mesum dan sebagainya… gombalnya gak maen-maen… udah seluruh cewek di sekolah ini digodainnya.. bahkan guru-guru pun di godainnya.. kalau masalah ngegombal.. udah deh kalau dia paling de best di antara para pujangga… apapun di sebut… dari bunga… bintang.. bulan… sampai-sampai.. “kalo aku jadi sapi, kamu mau gak jadi kotorannya..” daaannn PLLLAAAKKK… pasti itu lah akhir dari usahanya ngegombal.. hahha.. cara ngomongnya norak abis.. dia sering pake bahasa gaul kalau ngomong tapi sayang logat jawanya itu gak bisa hilang. Itu lah orang yang terobsesi jadi anak Jakarta.. hahahah.. nah.. joko itu suka banget tuh sama rena… beberapakali dia mencoba nembak si rena. tapi hasilnya bad.. gagal total, hampir 48 kali dia nemabak rena.. dengan berbagai macam cara nembak. yang paling norak dia nembak pakai bunga yang di ambilnya di belakang toilet. ihhh.. bau banget. haha… aku mengenal karena dia teman sebangku ku… dan karena kalakuannya hampir sama kayak aku… bodoh bodoh sarap. makanya aku bisa akrab sama dia..
Selagi aku membersihkan WC, joko mendatangiku, rencananya sih ngajak makan… tapi aku bilang “aaahhh. malas aku jok.. kamu aja sana. aku masih sibuk nieh.” “aahhh.. pasti dihukum lagi, udah lah.. loe gak tahan nieh ma bau toilet” “jangan ganggu aku ah, udah sana, kamu aja.. nanti aku dihukum lagi..” “heh… tapi loe jangan nyesel yee.. ya udah semangat ya..” “ya.. ya… hahahah..” “lalala.. haduh… kerjaan belum beres… bandel banget sih nie kotoran… ini lagi kecoa.. pergi dong.. main j*dinya tempat di lain aja yah..” “gak ah lagi seru nih… kamu aja yang pergi.. nah… flush.. aku menang.. hahahaha..” kata kecoa.. tiba-tiba datang orang gak jelas pakai baju superman “ahhaaa… anda kesusahan untuk memberikan kotoran yang membandel dan kecoa yang yang nakal itu… saya tau solusinya… ini.. pakai pembersih turbo ini..” “gak mempan om… coba aja..” “semprotan turbo” orang itu menyemprotkan itu ke kecoa.. tapi kecoa itu malah keasyikan “asyik, lagi om. lagi..” “ya kan om. percuma..” kataku kepada orang itu. “eeemmm. saya masih punya cara lain..” “apa itu om? coba lihat.” orang itu mendekati para kecoa dan mengobrak-ngabrik meja j*dinya.. “heh, sudah.. sudah.. pergi kalian dari sini.. kalian tau j*di itu haram hukumnya” “heh. loe siapa? main nyosor aja loe.. gue beri juga loe. ayo teman-teman.. serang dia..” orang itu pun lari keluar toilet dan para kecoa mengejarnya. “wah.. pada hilang semua tuh kecoa, makasih ya om!!!” “sama-sama. awww!!!” “nah.. gini kan enak.. lalalla.. lalalalala. Hahaha.” setelah kecoa itu pergi, aku pun bisa leluasa untuk membersihkan wc. Tapi saat aku ingin masuk untuk melanjutkan pekerjaanku. Rena berjalan ke arahku dengan kepala tertunduk. Kulihat terus gerak-gerik dia. Lalu saat dia mengangkat kepalanya, mataku dan matanya saling bertatapan. Dia lalu membuang muka, dia kemudian berbelok ke arah kantin. “Dasar eh. Cewek aneh”
Setelah pekerjaan ku kelar, aku masuk kelas dengan bau yang semerembak luar biasa. anak-anak yang ada di kelas pada tutup mukanya pake plastik gara-gara keberadaanku.. joko pun ikut-ikutan… “jok.. kok gitu sih.. kamu gak setia kawan nih…” “setia kawan gue war, tapi wangimu itu loh. lebay banget.” joko mengendus-endus nafas di dalam plastik.. wajahku merengut gak karuan sambil mencium kedua ketek ku.. “iya ya.. bau tikus mati.. hadeh..”
Gak beberapa lama bel pulang bebunyi. Bunyi dari surga kata anak-anak di kelas ku. Biasanya aku gak langsung pulang. Aku meminjamkan motor kepada joko untuk berangkat kerja.. selama nunggu joko menjemputku lagi di sekolah… nah selagi menunggu joko nemanin pak satpam jaga pos.. eehh.. tapi belum sampai pos ternyata pak satpam manggil “war.. maen catur yookk” “nantangin nih… ntar bapak kalah telak lagi..” “aaahhh… gak bakal… hari ini saya punya taktik baru.. hahaha..” “kalau saya menang saya dapat pecel kan..” “oke… deal..”
Jrreeennnggg.. pertarungan sengit pun di mulai… ekspresi wajah pak satpam seakan mengingatkan aku dengan jack sparrow pemain dari pirates of carebian di perkuat dengan burung beo milik pak satpam.. aku gak mau kalah… aku memasang ikat kepala yang betuliskan “aku pasti menang”… aku melihat dalam pikiran pak satpam “aku akan mengalahkan mu anak nakal” aku pun berpikir “aku akan mengalahkanmu bapak tua..” duuunnngg bunyi gong yang tidak tau asalnya pun berbunyi… dan muncul gadis yang gak tau datang darimana mengangkat papan rounde 1. itulah pertanda pertandingan dimulai. baru 3 kali jalan aku sudah bisa mengalahkan pak satpam… “ini baru pemanasan anak muda..” kata pak satpam sambil memutar-mutar kumisnya “saya tau itu pak” aku membalasnya dengan senyum sinis.. “mari kita mulai lagi” kata pak satpam.. bunyi gong itu kembali berbunyi dan gadis mengangkat papan bertulikan rounde 2… dan ronde ke sekian kalinya… pak satpam gak ada perlawanan.. “skak mat” begitu kataku… setiap rondenya.. aku bisa makan… bisa minum teh… bahkan bisa pergi ke WC.. gara-gara lawanku kelamaan mikirnya.. hhahahaha.. dan sampai-sampai capek cewek yang ngangkat papan… pak satpam menyerah dan pertandingan berakhir… “mbak… mbak… udah selesai pertandingannya..” kataku kepada cewek itu “oh… udah ya.. saya pulang dulu ya…” cewek itu pun pergi… aku terheran-heran kok bisa ada orang itu disini..
“wah, war hari ini kamu menang telak lagi nih, hahaha” kata pak satpam “iya pak, tapi makasih nasi pecelnya yah pak, enak banget” “oia donk, buatan istri saya, hahahha” “oia dah, saya pulang dulu, udah sore, makasih ya pak,”
Hari sudah sore, aku bergegas untuk pulang ke rumah omku, karena ayah dan ibuku lagi ke luar kota, jadi aku nginap di rumah om ku aja. om jamal namanya, pria berbadan gendut, tinggi 169 cm, rambut cepak, dan doyan banget makan pete, “Asalamuaikum” “Oh. Kamu war. tadi ada telpon dari ibu mu. katanya kamu disuruh belajar yang rajin. Bapak sama ibumu 2 minggu lagi baru pulang” “oh gitu yah om, kok ibu gak nelpon ke hape ku ya.. padahalkan sekarang aku sudah punya hape” “Oh. Tadi katanya pas nelpon kamu. Nomormu gak aktif. Makanya ibumu nelpon om” “oia udah, makasih ya om. saya naik ke atas dulu ya om,” “iya”
Setiap sehabis solat magrib, aku selalu duduk di atass atap, walaupun aku nakal dan berandalan. Tapi kalau sudah sampai rumah aku adalah pengikut aliran galaunisme. Hahahahaha. aku suka melihat bintang-bintang dan bulan, sambil duduk dan dengerin mp3. Kadang aku berfikir kalau aku ingin menjadi bintang. seorang bintang yang selalu disebut dan diagung-agungkan oleh sebagian para pujangga. Akhir-akhir ini aku sering banget duduk di atas atap sampai jam 3 pagi. Biasalah telpon-telponan dengan merlin. Dia paling seneng kalau aku sudah nyanyi. Jadi setiap kali aku nelpon dia, dia selalu bilang “nyanyi dulu dong” gitu katanya. Tapi gara-gara aku nyanyi gak ingat-ingat waktu. Tetangga selalu marah-marah “woy. jam berapa ini, cari mati ya.” melempar sepatu, panci, melempar orang juga pernah. setelah aku puas bercinta dengan bintang. aku langsung tidur. “anwaaar…!!! Jam berapa ini. Aduuuhhh.” teriak omku di lantai 1 “war ada joko itu loh..” “gimana om, Anwarnya masih tidur ya?” “iya tuh… kamu naik aja ke atas. bangunin dia, ntar dia terlambat lagi” “iya om, dengan senang hati, hahaha” Setiap hari joko menjemputku untuk sekolah… kalau gak ada dia aku mungkin gak pernah sekolah. tapi cara dia banggunin aku yang bikin aku langsung melek… “astaga anwar, heh bangun, udah pagi,” joko mengerak-gerakan tubuhku, tapi aku langsung menutup telingaku dengan bantal. “ooohhh, mau gue beri nih anak” joko menyiapkan palu extra besar beserta pakunya… dia memalu telapak kakiku, aku pun terduduk… tapi sayangnya aku masih tidur.. “banggguunnn Anwaaar” joko memukulku pakai palu yang beratnya 500kg, “hah, eh joko, sekolah ya, bentar jok… aku mandi dulu,” aku pun terbangun, “waduw” joko terkejut melihat benjol besar di kepalaku.. joko setiap hari ke rumahku, sekalian numpang sama aku naik motor bututku, jelas karena rumahnya jauh banget sama sekolah.
Aku sekelas dengan joko, dia adalah compatriotku kalau sudah ngerjain guru “jok, hari ini jadwal apa?” kata ku sambil mengangkat kedua kaki di meja kelas dan bergaya seperti bos yakuza… “hari ini jadwalnya pak sardi,” kata joko dengan ketawa licik “oke, kita siapkan rencananya, hahahaha..” setelah menyiapkan rencana, pak sardi pun masuk “selamat pagi anak-anak.” “selamat pagi pak” teriak anak-anak. Pak sardi pun terlihat waspada, karena dia sudah sering di kejain, dari kena air di depan pintu, terpeleset minyak yang sudah di oles ke lantai. sampai ngasih jarum di bangkunya. kalau sudah kena dikerjain, dia pasti kesenangan banget, sebenarnya sih teriak. Hehehe. Pak sardi melhat sekitar-sekitarnya, lalu dia melihat ke arahku, aku pun menampakan wajah lugu dan tak berdosa, pak sardi mulai merasa aneh “coba.. ganti bangku bapak, saya takut ada jebakannya” pandangan tajam dari pak sardi menuju padaku. tapi aku tetap dengan ekspresi wajahku, salah satu murid pun mengambil kursi yang ada di belakang kelas. tanpa diperiksa dia langsung duduk dan saat dia ingin mengambil absen “aaagggkkkhhh” tangan pak sardi terkena jebakan tikus yang ku selipkan di buku absen. Saat dia ingin loncat celana bagian bokong dari pak sardi robek. Aku sudah menduga dia pasti menukar bangkunya makannya aku ngasih lem ke bangku kosong di belakang.. “Anwaaaar!!”
“wah. di hukum lagi nih war.” kata joko yang gak kena hukuman karena aku mengaku kalau aku melakukannya sendirian “iyaaa jok, kamu tau gak tadi bu fitri kayak beo pak satpamnya, Anwar jangan begitu lagi yaaa lalalalala ngicau terus” Kataku sambil mencontoh suara dari bu fitri.
Joko memegang papan yang ku kalungkan “hahahahha, wah, apa tuh bacaannya saya adalah murid ternakal.. saya tidak akan nakal lagi” joko membaca papan yang ku bawa “haahhh gak mempan kalau kayak gini, aku akan balas dendam sama pak sardi, dia akan merasakan kesakitan yang lebih daripada itu. hahahaha,” “dan kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada ini. Hahaha. Dasar loe war, nanti kita kerjain pak sardi dengan rencana yang lebih gila lagi, hahahah” “oke. jok, belikan aku minum donk, haus nih, panas, gerah, dehidrasi lagi. Ini sebenarnya sekolahan atau gurun sahara sih? Hadeh.” “oia bentar ya” joko pergi ke kantin… “cepat ya jok! haduh panas banget nih hari” Sambil menghapus keringatku sesekali
Selang beberapa menit joko datang membawa minuman, “loe kenapa war? what happen?” joko melihat ekspresi wajahku yang melas seperti orang terperangkap di gurun pasir “aiiirrr! Aiirrr! Aiirrr!” aku menjawab dengan tangis yang sedikit agak lebay “udah, udah, minum dulu, ini, minum dulu, nihh” joko memberikan minum kepadaku.. sangking aku hausnya aku langsung minum tanpa mikir panjang… “hoooaa. Panaass! kok panas! minumannya panas jok” minuman yang diberikan joko ternyata panas. aku membuang minuman itu “esnya abis jadi gue beli yang anget, loe juga gak bilang pengen yang dingin kan?” “jokooo kammpreeettt!” “huuuaaa! Larriii!” joko lari secepat kilat, lalu aku melempar sepatuku. “rasakan ini!”
toeeenggg.
sepatu itu mengenai kepala joko. “ooohhh yeah. head shoot!”
Sekarang ini aku lagi gak fokus banget belajar. Yah, walaupun aku suka ngerjain guru dan tidur di kelas. Kalau aku lagi mood aku bakalan fokus banget belajar. Sayangnya saat ini aku lagi smsn terus sama merlin. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap waktu aku selalu smsn ma dia. Dimanapun, dalam keadaan apapun, ataupun aku lagi ngapin aku selalu smsn. Mau lagi di kelas, di toilet cowok, toilet cewek. “iyyaaakkk!” teriak cewek-cewek, di semak-semak, di jalan juga smsn sampai-sampai aku jatuh ke gorong-gorong gara-gara fokus sama hape aja. Tapi tetap aku masih bisa smsn sama dia.
Sudah 3 bulan aku Pdkt dengan Merlin. Dan mungkin sudah waktunya aku bertemu dengan pemilik suara imut itu.
Waktu telah menunjukan jam 12 malam. Ini adalah jadwal dimana aku telpon-telponan dengan dia.
Anwar : Halo..
Merlin : Iyah?
Anwar : Lagi apa nih?
Merlin : Lagi baring-baring aja? Kamu lagi apa?
Anwar : Lagi mikirin kamu. Hehehe
Merlin : Ah, masa sih?
Merlin tertawa kecil. aku tau disana dia lagi malu-malu tikus, eh maksudku malu-malu kucing.
Anwar : ciye. Salting nih yeee..
Merlin : Salting? Digaremin dong?
Anwar : Dasar aneh ah. Hahaha
Kami saling membalas candaan. Kami tertawa bersama di telpon. Dan saat tawaan kami makin lama makin menurun. Aku langsung mengatakan apa yang selalu kupikirkan dari tadi pagi.
Merlin : Ya udah. Aku tidur dulu ya.
Anwar : Eh. Tunggu!
Merlin : Kenapa?
Anwar : Kita ketemuan yuk?
Merlin : Emmm. Boleh.. dimana?
Anwar : Bagaimana kalau di café dekat Sekolahku?
Merlin : Boleh juga. Kapan mau ketemuannya?
Anwar : Besok malam gimana? Kamu gak ada acarakan?
Merlin : Gak ada..
Anwar : Oke.. jam setengah 8 aku tunggu disana ya.
Merlin : Iya.
Anwar : Oke deh. Selamat tidur mimpi indah ya.
Keesokan harinya, aku mengajak joko menemaniku ketemuan dengan merlin. Tapi seblumnya aku harus mempersiapkan diriku dulu supaya tampil keren di depan merlin. Aku menjemput joko di rumahnya yang kebetulan dia lagi libur kerja. “Jok. Jok. Bangun jok.” Kataku sambil mengerak-gerakan badannya joko. “apas ih loe war? Ganggu aja sih. Gue malas jalan nah. Ngantuk banget gue” kata joko sambil menutup telinganya dengan bantal “Temani aku jalan dong jok” kataku mengambil bantalnya “Ah males. Lain kali aja war. Gue ngantuk banget nih. Sumpah” kata joko menutup seluruh badannya dengan selimut. “Tolong deh jok, aku mau ketemuan sama cewek nih” “hah! cewek” Joko tiba-tiba langsung bangun dan memegang kepalaku dengan kedua tangannya “Iya. cewek” Kataku yang kaget dengan respon tinggi dari joko. “Oke.. tunggu bentar” kata joko bergegas mengarah ke lemari pakaian, dan dia masuk ke dalam lemari itu, dan tiba-tiba keluar dengan baju rapi.
“Oke.. kita lets go” kata joko dengan nada yang bersemangat
Aku masih bingung bagaimana bisa masuk kedalam lemari dengan pakaian tidur terus bau apek tapi pas keluar kok jadi gitu ya. “Jok? Kok itu..” belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku. Joko langsung menyeretku keluar dari kamar “Ayo war. Kita udah gak punya banyak waktu nih”
Sesampainya di Café. Aku memilih tempat duduk yang berada di luar café. Soalnya kalau di luar kesannya romantis gitu. Saat aku duduk dan melihat sekeliling café. Aku melihat di meja belakang, ada orang sedang membaca buku pesanan terbalik. Sudah gitu saat ada pelayan mendatanginya. Gerak tubuhnya seakan mengusir pelayan itu. Orang aneh!
“War. Pacar loe cantik gak?” kata joko “mana aku tau. Aku belum pernah ketemuan sama dia” jawabku sambil melihat-lihat ke pintu masuk. “Kalau ada temannya yang cantik, kasih gue ya war” “Iya gampang. Yang penting ini dia itu datang atau gak?” “Betul juga ya, tenang masih ada 3 menit lagi kok. Dia pasti datang”
1 Jam kemudian
“hadeh bosen gue war, hibur gue dong” “aku juga bosan nih, kamu aja yang hibur aku. Joget-joget kek” “loe kira gue badut, sial”. Beberapa saat kemudian suara wanita yang luar biasa merdunya membuatku terkesan. “Bagus banget suaranya, Nie lagunya dygta kah? Yang judulnya apa ya?” “Seperti pelangi, brew. Kayaknya penyanyinya itu menghayati banget tuh lagu” “Iyah, Berasa lagunya itu buat aku deh, hahaha” “Kepedean loe war” “Suaranya darimana tuh?” “Kayaknya dari dalam war. Mungkin penyanyi café disini mungkin” “Oh gitu yah. Seketika bosanku hilang mendengar suara penyanyi itu eh. Liat penyanyinya ah” Tiba-tiba Handphone ku berdering, dan ternyata itu adalah tarpon dari merlin. “Jok. Merlin jok!” kataku sambil kegirangan. “Angkat war. Cepetin!”
Anwar : Halo.
Merlin : Halo. Kamu dimana?
Anwar : Aku sudah di café nih
Merlin : dimananya? Aku sudah di depan café nih. Lambaikan tanganmu dong
Aku melambaikan tanganku. Seorang cewek melihat ke arahku lalu mendatangiku. cewek itu cantik banget. Kayak bidadari yang turun dari surga. “Kamu yang namanya Anwar ya?” “iya” Kataku dengan kegugupan yang sangat luar biasa. “Udah gak usah gugup, santai aja sama aku. Aku merlin. Oia. Ini temanmu ya? Siapa namanya?”. Joko tiba-tiba menjadi patung karena terpana dengan kecantikannya merlin. “Ih. Kalian kok gitu sih. Oia, Aku gak bisa lama-lama nih. Soalnya udah malem, takut dimarahin mamah” “Iya” tanganku sampai gemeteran memegang tangan si merlin. “Aku tinggal ya. Sayang. Jangan lupa telpon aku nanti malam yah”. Aku terkejut dengan perkataan merlin. Sampai-sampai minuman yang ingin ku minum langsung ku semburkan ke arah joko yang masih kaku seperti patung. Merlin pun pergi dengan meninggalkan senyum dan lambaian tangannya. “Hoooahh, kecanggungan ini betul-betul menyiksa, benerkan jok, jok, jok?”. Joko masih terdiam seperti patung.
Dan setelah hari itu, semuanya langsung berubah drastis. Hidup jadi lebih indah dengan adanya merlin di dalam kisahku. Setiap hari smsn, telponan, seminggu sekali jogging bareng, yah walaupun dia selalu gak mau ku ajak jalan ke bioskop, café, atau tempat nongkrong yang lainnya. Tapi itu gak menyurutkan sayangku kepada merlin
Hari demi hari berlalu, dan sekarang aku sudah berhubungan selama 2 bulan dengan merlin. Dan hari ini aku ingin mengajak merlin nonton bioskop. Biar dia gak nolak ajakan ku, aku sudah nyiapin dua tiket. Memang sudah ku persiapkan 2 hari yang lalu. Hahaha.
Anwar : Halo. Sayang. Kita nonton bioskop yuk? Filmnya hari ini bagus loh.
Merlin : Aku gak bisa. Aku. Uhuk. Uhuk.
Anwar : Kamu sakit ya?
Merlin : Iyah. Jadi aku gak bisa jalan. Maaf ya.
Anwar : ya udah, gak papa. Cepet sembuh ya sayang.
Merlin : iya
Daripada tiketku terbuang sia-sia, aku mengajak sahabat terbaikku nonton. Siapa lagi kalau bukan joko. Setibanya di bioskop aku bertemu dengan teman-teman satu kelasku yaitu Lutfi, si culun dan si tua sedang mengantri tiket.
“Kalian nonton juga?” Kataku.
“Iya nih, tapi aku masih nunggu pacarku” Kata Lutfi.
“Oh gitu ya. Terus kalian berdua?” kata joko.
“Aku.. aku.. nemanin lutfi nonton” Kata Si culun.
“Lah, kamu?” tanyaku kepada si tua
“Ke pengen” Kata si tua
“Irit banget sih ngomongnya, dasar tu”
Aku dan lainnya langsung bergegas menutup mulut joko.
“Apa?” Kata si Tua dengan raut wajah pembunuh
“Aduh. Gak kok. Gak kok. Eh itu pacarku datang” kata lutfi.
Semua mata menuju kepada pacar lutfi. Aku pun gak kelewatan untuk melihat pacar lutfi. Namun semakin dekat pacar lutfi berjalan, aku semakin tidak percaya. Ternyata dia adalah merlin. Merlin pun terkejut dan menghentikan langkahnya. Aku mendatanginya meninggalkan teman-temanku.
“Kamu udah punya pacar ternyata?” kataku dengan menahan emosi.
“Maaf. Aku gak pernah bilang sama kamu” Kata merlin
“Jadi, Kamu anggap apa hubungan kita selama ini?”
“Hubungan persahabatan. Gak lebih”
Mendengar itu aku langsung berlari menuju lutfi dan memberikan 2 tiket bioskop kepadanya.
“Kamu gak usah capek-capek ngantri lut, Nih tiketku”
“Loh, kenapa?”
“Tiba-tiba aja aku mual”
“Eh, kenalan dulu dong pacarku”
“Aku udah kenal kok”
“Jadi kamu udah kenal dengan merlin war?”
“Lebih dari yang kamu tau”
Tanpa pamit dengan teman-temanku, aku segera keluar dari bioskop. Hujan turun dengan derasnya di luar bioskop. Aku membiarkan hujan membahasi tubuhku yang hancur berkeping-keping setelah di hantam kenyataan pahit. Tiba-tiba sebuah payung melayang ke arahku dan menghantam keras kepalaku hingga aku pingsan di tengah guyuran hujan. Untungnya saja joko datang menolongku dan membawaku pulang.
Aku merasa sangat frustasi saat mengetahui jika merlin tidak menggangapku sebagai kekasihnya. Imbasnya aku kehilangan semangat hidupku. Tidak ada tenaga, tidak ada ekspresi begitulah aku setelah kejadian itu. Bayang-bayang kelam itu membayangiku setiap harinya. Wajar saja bila aku sering melamun di sekolah. Guru-guru yang sering ku kerjain pun terheran-heran dengan sikapku belakangan ini. Sahabatku joko hanya bisa merangkul pudakku dan berkata “Ayo semangat”. Kata-kata itu seakan tidak berarti bagiku.
Suatu hari aku terlambat datang ke sekolah. Saat aku hendak pergi ke kelasku, seseorang menghalangi langkahku. Ku tegakkan sedikit kepalaku yang sebelumnya tertunduk lesu. Ternyata yang menghalangiku adalah joko. “kenapa jok?” kataku dengan nada lesu. “Hari ini guru-guru lagi ada rapat, jadi kita ke kantin aja dulu. Ada yang gue pengen kasih sama loe”.
Sesampainya di kantin, Joko mengeluarkan sepucuk surat dari kantongnya. “Apa ini jok?” “Tadi pagi gue temukan ini di meja loe. Gue gak tau dari siapa, tapi ada nama loe di surat itu” “udah kamu baca?” “Gak lah. Gue belum gak ada buka sama sekali”. Aku melihat-lihat surat berwarna ungu itu dan ternyata memang benar ada namaku yang tertulis disitu. “War.. gue tau kejadian itu sangat berat buat loe. Tapi loe gak bisa terus-terusan kayak gini. Mengingat masa lalu itu Cuma membuat kita lemah. Kita harus membuka mata lebar-lebar ke depan. Jika satu cinta pergi, maka cinta yang lainnya akan datang. Loe harus ngelupain si merlin dan jalani hidup loe seperti biasanya”. Aku tidak menghiraukan ocehan si joko, Aku masih fokus dengan surat misterius itu. Perlahan ku buka surat itu dan ku baca.
Hai Anwar. Apa kabar? Pasti kamu heran kenapa ada surat di mejamu kan?. Sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu anwar. Mungkin kamu aja yang gak sadar. Semua bermula saat kamu nolong aku saat aku kecopetan di halte bus setahun yang lalu. Saat itu tepat hari ujian masuk SMA. Dengan gagah berani kamu nangkep copet itu. Aku langsung jadi suka. Sayangnya dulu kamu cuek banget. Setelah kamu kembalikan dompetku kamu langsung pergi, lalu menjatuhkan kartu ujianmu. Tapi aku kaget ternyata kita tujuannya sama. Kamu juga tes di sekolah yang sama denganku. Dari kartu ujian itu aku tau namamu. Dan hebatnya kita sama-sama lulus dengan namaku yang paling atas dan namamu paling bawah. Hahaha. Lalu saat tahun pertama sekolah aku mengganti penampilanku supaya kamu memperhatikanku. Ternyata kamu juga cuek sama aku. Walaupun banyak cowok-cowok yang dekatin aku, aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan cowok-cowok yang nembak aku semuanya ku tolak. Karena hatiku Cuma ada kamu anwar. Aku selalu memperhatikanmu saat masuk sekolah, saat kamu di marahin guru, saat kamu dapat hukuman, dan saat kamu lagi main catur sama pak satpam, pokoknya semua tingkah lakumu yang konyol itu. Oia, sempat aku pengen berterimakasih sama kamu saat kamu lagi di hukum membersihkan toilet. Tapi aku terlalu gugup. Jadi aku langsung salah tingkah. Aku juga tau saat kamu ketemuan dengan cewek. Asal kamu tau yang kamu bilang orang aneh lagi tidur di meja makan itu adalah aku. Aku denger keluhanmu karena kamu bosen banget nunggu cewekmu datang, makanya aku berusaha menghiburmu dengan nyanyianku. Sebenarnya lagu itu untuk kamu loh, hehehe. Dan saat kamu hujan-hujanan di luar bioskop, aku yang ngelemparkan payung ke kamu, niat ku baik biar kamu gak kehujanan, eh ternyata malah kena kepala terus kamu pingsan. Hehehe. Hari ini aku bakal pindah sekolah di luar kota. Biar aku pergi dengan perasaan lega jadi aku nulis surat aja. Masalahnya aku ku gak berani ngomong langsung ke kamu, Hehehe. Walaupun aku bakal jauh, gak bisa ngeliat kamu lagi. Perasaanku gak akan berubah sama kamu war. Selamat tinggal ^_^
Dariku untukmu
Rena Firdayati Samanta
Kututup surat itu lalu melihat ke atas langit. Entah kenapa senyumku kembali seperti dulu setelah membaca surat dari rena. Seakan awan membentuk wajah rena aku pun berkata “Terima kasih sudah mencintaiku, Kelak jika di beri kesempatan untuk bertemu. Aku tidak akan melewatkanmu”
THE END
Penulis Cerita: Nur Ubay

Sajadah Terbang

“Anisa bangun” ibu membangunkan Anisa yang sedang tidur.
“shalat subuh dulu nak,” kata ibu.
“Iya bu,” Anisa bangun dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan segera shalat subuh.
“hooaamm” Anisa menguap selesai shalat.
“aku ngantuk banget, aku tiduran sebentar ah” gumam Anisa yang masih lengkap memakai mukena mulai berbaring di atas sajadah. Dan beberapa saat kemudian dia tertidur.
Matanya terbuka. Terasa angin yang begitu kencang.
Matanya melihat ke bawah dan menemukan selembar sajadah didudukinya terbang di udara.
“ini kan sajadahku. Apa sajadahku ini ajaib. Woww..” gumamnya polos.
“aku mau jalan-jalan ahh” katanya dalam hati sambil senyum bahagia.
“sajadah ayo kita jalan-jalan” Anisa teriak bahagia.
Anisa dan sajadahnya pun terbang dengan penuh semangat.
“wow.. indahnya…” gumam Anisa.
“Anisa.. Anisa..” seseorang memanggilnya dari bawah.
“wah.. itu ibu. ibu.. ibu.. Anisa terbang” Anisa memanggil ibunya sambil melambaikan tangan penuh kebahagiaan.
“Anisa.. Anisa.. bangun sudah siang, kok tidur di sajadah sih” ibu membanggunkan.
Mata Anisa pun terbuka dan ternyata Anisa hanya bermimpi.
THE END
Penulis Cerita: Nurhikmah Hakiki

Gue Mimpi Aneh

Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek, Abel kek, nggak apa-apa kok!
Gue punya satu cerita yang satu-satunya bikin gue merinding dari cerita-cerita horror lainnya. Ini cerita beda banget sama cerita-cerita horror yang lainnya. Cerita ini emang nggak nyata, tapi ini seperti nyata tapi di dalam mimpi. Yup! Ini cuma mimpi. Dan mimpi ini lebih mengerikan dari pada mimpi-mimpi yang lain. Hiii …
Gue setengah tidur, setengah bangun, alias setengah sadar, dan setengah nggak sadar. Samar-samar gue dengar percakapan bokap sama nyokap gue. Gini nih kalau cerita yang gue dengar waktu itu.
Bokap: “kita ziarah yuk!”
Nyokap: “nanti, Pa! Mama lagi bersih-bersih bareng adek (adek yang dimaksud adeknya nyokap gue).”
Bokap: “okeh! Nanti siang, ya?”
Nyokap: “iya, Pa!”
Nah, dibilang mau ziarah, gue baru inget kalau gue baru aja udah belajar tutorial hijab baru. Pengeeennn banget gue ikut!
“Pah, Abel ikut, ya?” pinta gue. Tapi nyokap maupun bokap gue nggak ada yang ngejawab. Akhirnya, gue tidur, terus bangun, dan tidur lagi.
Bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi. Banguuun! Tidur lagiii!
Nah, dari bangun-tidur-bangun-tidur lagi, di sinilah cerita mimpi kayak nyata itu datang.
Gue bangun. Masih merasa kayak di dalam mimpi. Kepala gue agak pusing. Tapi gue bergegas nyari baju buat pergi ziarah kubur. Karena waktunya kepepet banget, akhirnya nyokap gue turun tangan ngebantuin gue sambil ngomel-ngomel karena gue lambat bangun dan bentar lagi bokap gue bakalan pergi. Jadi, tanpa perlu mandi, gue udah pake baju. Entahlah, gue juga nggak ingat. Tiba-tiba aja gue udah pake baju yang dipilihin nyokap gue barusan.
Setelah selesai pake baju (padahal udah kepake dengan ajaibnya), ternyata bokap gue nggak jadi ingin pergi ziarah. Jadi, sebagai gantinya, gue dititipin sama tante gue yang kebetulan mau ziarahan juga. Untung aja gue ada temen. Fiona dan Nauzan.
Gue pun keluar dari rumah dan lari-lari nemuin Fiona dan Nauzan. Padahal, gue males banget lari-lari kayak gitu. Takutnya kehausan, karena lagi puasa. Tapi lebih baik lari dari pada ditinggalin.
Ini yang bikin gue kesel! HA-RUS JA-LAN KA-KI!!! Huuuhhh … Udah capek, tante gue dan Nauzan lagi semangat, dan Fiona yang jalannya … duuuhhh … nggak kebayang gimana cepatnya! Lebih cocok dibilang lari dari pada jalan. Dan dari semua yang pergi ziarah, cuma gue! Gue seorang yang paaaling lemes!
Tinnn tiiinnn!!!
Terdengar suara klakson sepeda motor dari arah belakang. Gue berbalik dan gue temuin kakak gue yang lagi make sepeda motor.
“ngapain, Kak?” Tanya gue basa-basi.
“tadi, disuruh Papa nganterin kamu biar kamu nggak kecapean!” jawabnya.
Karena jawaban dari kakak gue, gue jadi seneeeng banget! Karena akhirnya gue nggak perlu lagi capek-capek ngikutin tante gue yang jalan kaki. Gue pikir, kenapa nggak manggil taksi biar nggak kecapean? Tapi biarlah, itu urusan tante sama yang lainnya.
Tapi, baru setengah jalan, eeeh, kakak gue malah nyetop deket jembatan.
“kenapa setop, Kak?” Tanya gue.
“jembatannya diperbaikin orang!” ujar kakak gue. Gue bingung. Perasaan, jembatan yang diperbaikin itu jembatannya masih jauh dari sini. Pas gue lihat, ternyata bener! Jembatannya diperbaiki! Tapi tunggu, katanya dibaikin, kok, orang yang lagi baikinnya nggak ada, ya? Terus, kenapa nggak dibikin jembatan darurat? Biar mudah lewatnya. “kita naik getek aja!” usul kakak gue.
Sebelum lanjut, kalian tahu nggak getek itu apaan? Apa? Getek itu semacam perahu yang ditarik menggunakan tali dari satu pulau ke pulau lain.
“oke!” jawab gue seneng. Gue seneng karena jarang-jarang gue bisa naik getek. Nggak kayak temen sekolah lainnya yang terpaksa naik getek karena jembatannya yang sedang diperbaiki.
Kakak gue kelihatan celingak-celinguk lihat ke sungai. Gue pikir, ngapain celingak-celinguk? Geteknya aja udah kelihatan dari sini. Setelah celingak-celinguk, kakak gue naik sepeda motor. Gue ikut naik tanpa mengatakan kalimat apapun. Sepeda motor pun pergi beberapa meter, lalu setop lagi. Dan lagi-lagi kakak gue celingak-celinguk lihat ke sungai. Gue bingung lagi. Udah tahu geteknya di sini adanya cuma satu.
“eh, nggak jadi deh, naik geteknya.” Kata kakak gue lemes. Lemeees banget!
“kenapa?” Tanya gue. Kakak gue diem, dan sekejap, gue baru ingat sesuatu. “oya! Kakak takut naik getek, kan?” Tanya gue yang baru aja ingat kakak gue pernah bilang kalau dia takut naik getek. Duuuh, udah gede masiiih aja takut naik beginian.
Dari sini gue mulai bingung. Kakak gue tiba-tiba aja ngilang entah kemana. Gue merasa kembali lagi menjadi anak kecil walaupun dari segi fisik nggak sedikit pun berubah menjadi anak kecil. Gue berpaling ke arah belakang, dan gue temuin Fiona, Nauzan dan tante gue. Tapi mereka nggak bertiga aja. Ada lima cowok lain. Sepertinya mereka bukan berasal dari Indonesia, tapi Korea! Jika dilihat, penampilan mereka terlihat seperti sebuah boyband dari pada warga biasa.
Salah satu dari Orang Korea yang berambut biru (ya, rambutnya biru hasil dari nyemir) manggil gue supaya mendekat ke sana. Entah mengapa kaki gue serasa ada yang menggerakkin. Padahal niat gue ke sana buat nemuin Fiona, Nauzan, sama tante gue. Tapi arahnya berpindah pada cowok-cowok Korea itu. Yang berambut biru tadi langsung meluk gue. Iiih! Sebenernya gue ogah dipeluk-peluk kayak gituan. Tapi gimana lagi? Badan gue serasa lemah, nggak ada kekuatan. Lalu cowok itu ngegelitikin gue. Gue mau ketawa kencang dan meminta tolong, tapi rasanya suara gue udah hilang, dan yang bisa gue perbuat hanyalah ketawa-ketawa tanpa suara.
“gue mau ini! Gue mau ini! Gue mau ngebeliin cewek gue ini!” hah?! Sepintas terpikir oleh gue, kok, cowok Korea bisa ngomong bahasa Indonesia? Dan … ngapain dia pegang-pegang kaos dalam gue? “gue mau ngebeliin cewek gue ini! Ini rok yang diidam-idamkan cewek gue!” sambungnya.
Hah?! Rok?! Panca indranya kemana, sih? Kaos dalam dibilang rok! Udah tahu gue nggak pake rok!
“cewek loe pasti seneng tuh, kalau loe beliin rok kayak gituan!” ujar temennya yang berambut pirang.
Dengan paksaan, gue melepaskan diri dari pelukan cowok gila itu. Dan sekarang terjadi kejadian yang aneh lagi. Tiba-tiba aja di depan gue ada tiga anak cewek yang gue kenal dan masih dibawah umur gue lagi tidur-tiduran di teriknya panas matahari. Mereka adalah Nausara, Vynna dan Liza. Yang anehnya lagi, mereka bertiga tidur-tidurannya pake bantal! Itu tidur, atau bener-bener tinggal di pinggir jalan?
“eh, Kak Abel! Ayo, Kak istirahat dulu di sini!” ujar Vynna sambil nepuk-nepuk bantal kapuk yang tel*njang (tel*njang ya maksudnya nggak pake sarung).
Entahlah semua kejadian ini terasa ada yang mengendalikan. Seperti seorang Script Writer yang sedang menuliskan kejadian gila ini. Mungkin sekarang dia sedang menuliskan “Abel pun ikut beristirahat bersama tiga anak perempuan itu”. Pantas aja gue tiba-tiba aja mau ikut sama mereka di bulan puasa ini berjemur di teriknya panas matahari tanpa ada rasa haus.
Gue melirik ke arah lima cowok Korea yang gila tadi. Gue kaget! Kenapa? Gimana nggak kaget? Di sini cahaya mataharinya terik banget! Dan di sana terlihat mendung dan sejuk. Di tambah lagi ada kakaknya Fiona yang lagi ngobrol-ngobrol sama lima cowok Korea gila dengan gaya “Chibi-Chibi” gitu.
“Kak, Kak, Kak!” ujar Vynna menyolek bahu gue. Gue berbalik arah pada Vynna. “Kak Abel lihat cowok yang berambut biru itu, kan?” tanyanya. Gue mengangguk. “dia itu bekerja di kantor ayahku, Kantor RisaRira.” Ujarnya.
Kantor RisaRira. Baru kali ini gue dengar ada kantor namanya RisaRira. Gue lirik lagi cowok berambut biru yang meluk-meluk gue tadi. Wajahnya mirip banget sama Guru Doong Ju, dokter hewan yang ada di film My Girlfriend is Gumiho. Miriiip bangeeet! Cuma rambutnya aja yang berbeda. Dia kurang tersenyum. Dari raut wajahnya, dia lebih sering melamun. Sama seperti halnya Guru Doong Ju.
Suasananya seperti fast motion. Cepat banget berlalu. Matahari telah tenggelam. Dan dengan rasa lemas, gue berjalan menuju rumah sendirian.
Malam hari di rumah, gue mandi dan saat sedang make baju, ada kejanggalan yang bikin gue bingung. Seperti ada yang memata-matai gue. Gue lirik ke arah jendela, dan gue lihat ada sebuah bola aneh berwarna biru. Benda itu gue ambil dan gue perhatikan dengan detail. Bola itu mempunyai satu mata yang besar dengan tiga tanda segitiga di atas matanya. Karena gue takut, gue banting tuh bola aneh. Dan saat dibanting, keluar lendir berwarna biru seperti putih telur mentah.
Tiba-tiba aja, ada bola aneh itu lagi. Tapi kali ini ada tiga! Dua buah berwarna biru, dan satu berwarna merah. Dan ciri-cirinya sama dengan bola yang pertama. Mata besar, dan tiga buah tanda segitiga di atas mata mereka. Karena gue takut bakalan semakin parah, akhirnya gue keluar kamar dan memutuskan untuk keluar rumah aja sekalian. Dan … what happened?
Di sini lebih parah dari pada saat gue berada di dalam kamar. Di sini banyak sekali bola-bola aneh tadi. Dan bukan hanya itu! Di sini juga banyak benda aneh seperti selang yang ujungnya mempunyai mata, seperti Tali Penegak Keadilan milik Doraemon yang tugasnya mengikat orang-orang yang berbohong atau nakal. Warnanya pun beragam. Ada kuning, hijau, merah, dan biru. Benda-benda aneh ini membuat teras rumah gue berantakan. Ini aneh! Aneh sekali! Gue nggak pernah ngalamin hal seperti ini. Gue pengin teriak minta tolong. Tapi entahlah, suara gue serasa tercekat di tenggorokan.
Gue lirik ke sekitar dan gue ketemu pulakunya! Pelakunya tiada lain dan tiada bukan adalah lima cowok Korea gila tadi siang! Tapi kali ini mereka berdua saja, yang bertiga lagi gue nggak tahu di mana. Cowok yang mirip Guru Doong Ju itu kali ini nggak lagi serba biru. Kali ini dia berubah menjadi serba kuning. Malah temennya yang mirip Cha Dae Woong, seperti di film yang sama, My Girlfriend is Gumiho, itu yang serba biru. Cowok yang mirip Guru Doong Ju itu melempar bola aneh berwarna biru, dan cowok yang mirip Cha Dae Woong itu melempar bola aneh berwarna merah ke arah gue.
Kali ini gue bangun. Bangun beneran namun masih merasa di alam bawah sadar gue. Dan akhirnya gue tidur lagi.
Gue ambil salah satu bola aneh warna merah. Gue berencana untuk menanyakan pada Vynna tentang hal ini. Gue lari menuju rumah Vynna yang nggak jauh dari rumah gue. Tapi gue tak bisa berlari lagi karena gue dikepung oleh lima cowok Korea gila itu. Dua di depan gue sambil membawa 2 ekor kucing putih bertutul merah dan biru, dan tiga di belakang gue sedang membawa bola-bola aneh berwarna merah, biru, dan kuning.
Waktu itu, gue sebaaal banget! Gue cenggram kuat-kuat bola yang ada di tangan gue dan yang terjadi bukannya pecah, malah terbelah menjadi empat bagian dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya yang berukuran seperti bola voli.
Dua cowok yang lagi megang kucing itu langsung melempar dua kucing yang dipegangnya ke arah gue. Karena gue takut, gue tendang tuh kucing sehingga tak bisa bersama lagi, walaupun sebenarnya gue ini pecinta kucing. Gue tahu, pasti salah satu kucing itu betina dan satunya lagi jantan. Jika sel sperma kucing jantan memasuki sel telur sang betina, maka akan terjadi pembuahan yang pastinya akan mengeluarkan bola aneh barusan. Entah apa yang mereka perbuat pada dua ekor kucing yang cantik itu, yang pasti kucing hasil kloning itu akan mengeluarkan telur, bukannya anak.
Semua terjadi dengan saaangat cepat! Gue tak ingat lagi apa yang terjadi setelah gue menendang dua kucing cantik itu. Yang pasti, gue bangun dengan suhu yang panas. Gue ngebayangin lagi tuh mimpi kayak gimana. “kenapa nggak ada yang nolongin gue?” pikir gue. “mungkin waktu di dalam mimpi nggak ada orang lain di sekitar. Hanya gue dan lima cowok Korea gila itu.”
Itu semua terjadi entah karena gangguan Syaitan atau karena teguran dari Tuhan. Tapi, jika gue pikir lebih lanjut, sepertinya ini bukan karena gangguan Syaitan, namun karena teguran Tuhan. Kenapa gue bisa yakin dengan itu? Karena gue ngedapetin mimpi yang Super Duper aneh itu di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, pintu Neraka dikunci dan para Jin, Iblis, dan Syaitan dipenjara di dalam Neraka. Itu berarti mimpi aneh ini adalah teguran dari Tuhan. Tuhan menyuruh gue untuk bangun dan nggak molor-molor melulu di atas tempat tidur. Karena sebelum gue molor kelamaan, gue lupa baca do’a.
Astaghfirullahal ‘azhiiim …
Penulis Cerita: Jauharia Rusyady

Samun Punya Cerita

Di balik matahari yang mulai mengantuk, di sela-sela jari kaki Gunung Semeru; yang mereka sebut sebagai negeri di atas awan walaupun masih (selalu) di bawah sekotak misteri-Nya.
Seorang pemuda kencing di balik semak.
Pesing tak kentara, baunya tercium sampai Ranu Kumbolo. Surga pun tercemar karena bau pesing itu. Sembari mengutuk dinginnya angin yang baru saja menemaninya pulang turun dari puncak gunung, pemuda itu berbalik dengan selangk*ngan yang masih hina.
Seorang Bapak berumur 40-an menghampirinya; padahal si pemuda belum selesai menarik resleting celana PDL kotornya.
Bajunya coklat kumal tak karuan. Mungkin terbuat dari kulit binatang hewan yang hidup di sekitar sini, pikir si pemuda. Ada sedikit bercak darah kering di lengan baju Bapak itu.
“Dik, lain kali jangan kencing di sini.” Tangan Bapak itu kasar, mungkin karena harus melawan kerasnya alam Semeru; paku Pulau Jawa. Atau mungkin hanya karena terlalu lama memegang kapak untuk mencari kayu bakar untuk makan malam atau untuk sekedar bersenang-senang belaka.
“Ah… oh… i…iya… Pak. Maaf, maaf…” buru-buru pemuda itu menarik resletingnya sampai jari telunjuknya hampir terjepit.
“Nanti yang nungguin marah.”
Pemuda itu agak bergidik mendengar kata ‘nungguin’ walaupun dia tak percaya dengan takhayul.
“Waduh, iya, Pak. Saya nggak akan kencing di sini lagi.”
“Iya, jangan lagi.” Bapak itu menepuk pundak si pemuda dengan ramah. Larunglah niat si pemuda untuk segera kabur dari sana.
Dari teguran halus Si Bapak, datanglah pembicaraan sederhana di sebelah semak tadi: di atas kayu rontok yang sepertinya sudah lama terbaring di sana. Sepuntung Rok*k Gudang Garam Filter menemani bibir kering si pemuda. Asapnya menjadi orang ketiga dari obrolan mereka.
“Bapak mau rok*k?”
“Saya udah lama nggak ngerok*k. Saya udah janji ke istri saya”
“Kalau Bapak punya anak di sini?”
“Punya, tapi sudah meninggal.”
“Wah, maaf, Pak.”
“Sudah, tak apa. Sudah lama sekali lagipula.”
“Kalau istri, Pak?”
“Meninggal bersama kedua anak saya.”
Merasa tak nyaman membicarakan orang yang sudah tidak ada, si pemuda mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang sedang hangat
Wanita, Indonesia, hingga Gayus Tambunan menyangkut dalam satu setengah jam yang tak terasa. Hingga akhirnya si pemuda merasa sudah terlalu senja. Dia harus bertemu temannya di pos awal untuk mengejar kereta.
“Pak, maaf, saya harus ke teman-teman saya. Mereka udah nunggu di bawah.”
“Oh, silahkan, silahkan.”
Si pemuda mengambil ransel-delapan-kiogramnya dan bersiap untuk kembali berangkat. Kembali, merasa tidak enak jika pergi tanpa memberi sebuah ‘pertanyaan penutup’, si pemuda memberi pertanyaan terakhir.
“Oh iya, Pak, maaf, kalau rumah Bapak di mana?”
“Di sana.” Bapak itu menunjuk semak-semak tempat si pemuda kencing tadi.
Penulis Cerita: Finlan Adhitya Aldan

Gadget

Suasana bandara sore ini sepi seperti pertokoan yang sudah mau bangkrut. Laki-laki dengan wajah penuh penantian sedang duduk di kursi panjang ruang tunggu. Kepalanya mengintip lagi jam tangan sambil menggerak-gerakkan kaki sebelah kanan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mendengarkan pengumuman dengan seksama. Tapi sedari tadi pesawat yang ditumpangi oleh pamannya tidak juga disebut. Harusnya 5 menit yang lalu pesawat itu sudah mendarat di bandara ini.
Dia menolehkan kepalanya 45 derajat ke arah kiri, dilihatnya gadis berbaju biru yang duduk di bangku barisan depannya. Sesaat gadis itu menoleh ke arahnya sambil tersenyum lalu menunduk sibuk dengan gadget yang ada di hadapannya. Aduhai, sorot matanya tajam dan senyumnya semanis gula jawa. Sontak pria itu tersenyum riang sekali seperti lupa kalau ia sudah duduk hampir 15 menit menunggu kedatangan pamannya. Dan mungkin sekarang ia juga sedang khawatir, khawatir gadis itu akan dikerubungi semut kalau senyumnya semanis itu.
Pria itu sepertinya mulai kecanduan dengan pemandangan indah pada arah kemiringan 45 derajat di depannya itu. Dia mencuri pandang ke arah gadis itu lagi sambil menahan penasaran. Penasaran ingin menghampirinya dan mengatakan “Hai, aku Diko. Kamu siapa?”. Tapi rasa penasarannya masih terbelenggu oleh gadget yang ada di hadapan gadis itu. Si gadis terlihat menggerakkan tangannya dengan lincah di atas gadget lalu sesekali tersenyum dan tertawa sendiri.
Sudah hampir 30 menit pria itu duduk sendirian seperti orang hilang di bandara. Untung ada si jelita manis yang setiap saat bisa ia lihat senyumnya. Ia melirik ke arah si gadis lagi dan untuk lirikan yang kesekian kali ini gadis itu mendongakkan kepala, mengarahkan bola matanya ke arah pria itu lalu mengembangkan senyum. Untuk sepermilidetik pria itu seperti terhipnotis dan rasa penasaran dalam hatinya semakin membuncah. Senyum gadis itu seperti memberikannya kekuatan untuk mengeluarkan seluruh keberaniannya dan memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya.
Si pria menarik nafas dalam-dalam lalu berdiri dan berpura-pura meliuk-liukkan badannya ke arah kiri dan kanan seperti sedang meregangkan anggota badannya. Ia melangkahkan kaki ke arah 45 derajat dengan jantung berdegup kencang seperti bedug yang sedang ditabuh menjelang adzan. Mulutnya mulai komat-kamit menghitung langkah kakinya yang 15 langkah lagi sudah sampai di hadapan gadis itu. “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam…”, batinnya.
“Aduh, kok sinyalnya putus!”, kalimat itu meluncur dari mulut si gadis
Si gadis berdiri, meninggalkan tempat duduknya lalu melangkah menuju kafe 2 meter di seberang sana sambil memegangi gadgetnya seperti mencari-cari sinyal wifi. Dia duduk kemudian tangan dan matanya kembali sibuk dengan gadget di hadapannya, kembali tersenyum dan tertawa sendiri dengan benda mati itu.
Si pria yang merasa perjuangannya telah gagal karena gadis yang dihampirinya malah pergi mencari si sinyal wifi memutuskan menggeser sedikit arah kakinya 15 derajat ke arah toilet berjarak 3 meter di hadapannya. Tentu saja dia tidak buang air di toilet itu tapi mengumpat. “Dasar manusia jaman sekarang, gadget udah kayak makhluk hidup aja ngalahin yang bener-bener hidup.”, katanya menggerutu.
Penulis Cerita: Dina Az zakie

Kami Pindah Kesini

Nasreddin dan istrinya menghabiskan hari dengan berbelanja setelah mendapat uang dari hasil panen. Mereka membeli peralatan rumah tangga dan beberapa perhiasan. Ketika mereka sampai di rumah, mereka tidak langsung membukanya. Mereka segera menuju kamar tidur dan tidur dengan nyenyak karena mereka sangat lelah.
Selama dia tidur, istrinya memimpikan sesuatu yang sangat menakutkan lalu istrinya terbangun. Ketika dia terbangun, dia mendengar suara berisik di ruang tamu. Dia segera bangun dan menuju pintu dan melihat keluar. Di ruang tamu, dia melihat seorang pria mengambil barang miliknya. Lalu dia membangunkan suaminya.
“Ada apa?” Tanya Nasreddin yang masih mengantuk.
“Tidak kah kamu mendengar suara berisik?” kata istrinya.
“Apa yang berisik?” Tanya Nasreddin.
Dia mencoba untuk mendengar lalu pergi menuju pintu untuk mengintip keluar seperti yang istrinya lakukan.
“Apakah kamu melihat pencuri?” Tanya istrinya.
“Jangan terlalu berisik,” bisik Nasreddin. “Saya tahu dia. dia tinggal di jalan buntu sana.”
“Tangkap basah dia.”
“Tidak! dia akan kabur dan tetangga kita akan terbangun. Mereka akan mengejek saya karena saya tidak dapat menangkap pencuri,” bisiknya.
“Mengapa kamu tidak dapat menangkap dia?”
“Tidak kah kamu tahu kaki kiriku terluka kemarin?” dia menjawab.
“Tidak usah cemas. tunggu beberapa menit, dan dia akan menyelesaikannya.”
“Bagaimana bisa kamu tidak melakukan sesuatu ketika pencuri itu masuk ke rumah kita?” bisik istrinya yang marah.
Tak lama setelah mereka mendengar pencuri membuka pintu depan dan berjalan keluar dengan bungkusan besar berisi barang berharga.
Lalu Nasreddin memberitahu istrinya tentang kebiasaan si pencuri. “Dia akan menaruh barang berharga itu di rumahnya sebelum ia menjualnya. dan dia akan berjalan menuju rumahnya melewati jalan yang panjang untuk menghindari patroli petugas,” katanya. “Ayo!”
Nassredin dan istrinya mengambil jalan pintas menuju rumah pencuri, Mereka membuka pintu rumah pencuri itu dan pergi ke kamar tidurnya. Lalu mereka tidur disana.
Beberapa menit kemudian mereka mendengar sebuah suara dari arah pintu. Si pencuri pulang ke rumah, membawa barang berharga hasil dia mencuri dari rumah Nassredin. Dia terlihat sangat lelah. Dia meletakkan bungkusan besar di atas meja dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Dia membawa segelas air menuju meja, meminumya dan duduk. Segera ia merasa mengantuk.
Ketika ayam jantan berkokok pertama, si pencuri terbangun. Dia menguap dan meluruskan lengannya. dia tetap tertidur, jadi dia berjalan menuju kamar tidurnya. tetapi dia sangat terkejut menemukan Nassredin dan istrinya sedang tidur disana.
“Siapa kamu?” Si pencuri bertanya.
Pria itu berbicara keras sehingga membuat dua orang yang sedang tidur bangun.
“Siapa kamu?” Tanya si pencuri lagi.
“Nassredin!”
Pria itu membuka matanya lebar-lebar. Dia tetap merasa mengingat mencuri di rumah Nassredin. Lalu dia berkata, “Apa yang kamu lakukan di rumahku?”
“Baiklah, kami pindah kesini!” kata Nassredin dengan sebuah senyuman.
“Ini bayaranmu telah menolong kami membawakan barang berharga kami kesini!” tambah Nassredin, melemparkan sebuah selimut untuk si pencuri.
Penulis Cerita: Rosario Grace Olivio

Telephone Number 1

“boleh ya.. please…” ucap Liza di depan Zaldi sambil memohon.
“nggak ah aku nggak mau..” ucap Zaldi acuh, padahal ia ingin sekali memberikannya pada anak tomboy di depannya ini.
“baiklah” seakan menyerah Liza berhenti memohon pada anak laki-laki di depannya yang sudah ia suka sejak kelas 1 SD. berbalik lalu bergegas pergi.
Liza yang pantang menyerah menanyakan nya lagi pada sahabatnya Zaldi yang juga sahabatnya sendiri.
“please.. ya, kita kan teman, friend” ucap Liza memohon pada Dinda yang lagi sibuk memakan mie goreng kesukaannnya. Dinda menghentikan aktivitasnya, menelan seteguk air putih lalu menoleh pada anak tomboi di sebelahnya ini.
“tanya sama Zaldi..” ucapnya datar. lalu meneruskan makannya yang tertunda.
Liza yang menyerah berdiri “baiklah” lalu pergi ke lapangan.
“Liza..!!!” merasa dipanggil Liza menoleh.
“apa..” ucapnya datar menatap laki-laki di depannya yang bernama Kevin.
“main bola yuk.. tim kita kekurangan orang nih..” ucapnya memohon Liza melihat ke belakang laki-laki itu kurang lebih 10 orang sedang berharap harap cemas. Liza menoleh pada Kevin lagi.
“sorry, lagi nggak mood” ucap Liza datar dan berlalu pergi ke kelas.
Kevin terdiam merasa ada yang aneh dengan anak itu.
Liza duduk terdiam di kelas sambil membolak-balikan lembaran buku kosong.
“ohayo gozamaisu” ia tersentak kaget saat mengetahui di sebelahnya seorang anak laki-laki sedang berdiri di depan mejanya sambil tersenyum manis. beberapa saat ia menormalkan lagi detak jantungnya yang mencepat karena kaget.
“ohayo,” ucapnya datar. melihat gelagat yang tak biasa dari Liza laki-laki itu tersenyum.
“kamu kenapa?” ucapnya ringan.
“ah.. sudahlah Kazune, aku malas bicara sekarang” laki-laki bernama Kazune itu tertawa.
“tidak biasanya kau murung seperti ini, ada apa dengan mu?” Liza mengalihkan pandangan ke arah lain. membelakangi wajah Kazune.
“apa karena nilamu menurun”
“tidak”
“atau karena kamu tidak bisa bermain bola lagi”
“aku bilang tidak..”
“apa karena Zaldi”
“t-tidak” Wajah Liza bersemu merah, meski tidak melihatnya. Kazune tau apa yang sedang di rasakan sahabatnya itu.
“apa kau mau nomor telponnya.”
“ya.. aku sedang berusaha” Liza sadar, lalu menutup mulutnya sendiri. Kazune tersenyum lebar.
“baiklah coba jelaskan padaku”
“ehm..”
“tidak usah gugup, aku sudah jadi sahabatmu kan..”
“tapi..”
“huh.. kamu ini.” Kazune tidak sabar, meraih tangan Liza lalu menyeretnya melewati lorong-lorong sekolah dan menjadi perhatian anak-anak lain. Liza yang malu langsung berontak. tapi tidak dihiraukan oleh Kazune.
“apa yang kau lakukan hentikan…!!!” ucap Liza keras.
tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan Zaldi.
“Zal, Liza minta nomer telpon mu.” Zaldi bingung Liza menatap Kazune horor, sebentar lagi akan ada pertumpahan darah. Zaldi menggelng pelan lalu tersenyum.
“ternyata kamu tidak menyerah ya Liza, sebenarnya aku tidak memberimu itu karena aku tidak punya HP, jadi aku tidak punya.” saat anak-anak sibuk ber -oh panjang Liza sudah menhilang dengan Kazune dari tempat itu. ternyata mereka kabur ke kelas yang sednag sepi.
“apa yang kau lakukan?” tatap Liza geram.
“membawamu ke Zaldi” ucapnya tak berdosa.
“apa, kau menjawabnya enteng, aku tadi hampir dipermalukan”
“tapi setidaknya kamu tau kan apa alasan dia tidak di beri nomer telepon olehnya” Liza termenung beberapa saat menyadari kalau Kazune sudah duduk – di bangkunya dan membaca novel.
perlahan ia melangkah ke kursinya duduk dan melamun. Kazune menghela nafas, berat. ia merasa perih saat tau sahabatnya yang menjadi alasannya memendam perasaan nya ini. harusnya ia tau, perasaannya ini tak kan pernah terbalas. mungkin dia harus menyembunyikan perasaannya memendam dalam jauh ke dalam lubuk hatinya mengkuncinya dengan gembok yang besar lalu kuncinya di buang ke tengah laut dalam. ia harus tau, ia hanya ingin sahabatnya bahagia. Liza bahagia, ia bahagia, sesederhana itu.
Penulis Cerita: Sahira Fara Nabila

My Girl And My Vespa

Kali ini untuk yang berpuluh-puluh kalinya, Karjo kembali ke kebiasaannya setiap pagi sebelum berangkat Sekolah. Kalau sudah pagi, pasti suara Emaknya Karjo kedengaran sampai ujung kampung bahkan menggema ke kampung sebelah. Abis, suaranya Emaknya Karjo cetar membahana, kayak penyanyi terkenal tuh, Syahrini yang terkenal dengan slogannya “Sesuatu”. Dan seperti biasa, Karjo dibangunin Emaknya.
“Karjooooo! Ya Allah, ni anak ye.. molor mulu dari tadi.. Karjooo! bangun lu!,” teriak Emak dengan suaranya yang cetar membahana. Di tangannya sudah siap sepotong rotan buat mukulin si Karjo kalau sampai nggak bangun-bangun.
“Bangun lu! hayo, kaga mau bangun lu, hah?!” teriak Emak sambil berusaha buat nempelin rotan ke tubuhnya Karjo. Karjo merintih kesakitan kemudian segera bangun dengan iler yang masih menetes di bibirnya.
“Iya, mak! Karjo udah bangun. Ya Allah, mak.. sampai kapan sih Emak bangunin Karjo dengan suara yang sampai kedengeran ke kampung sebelah?” kata Karjo dibalas dengan pelototan Emak.
“sampai kapan, sampai kapan? sampai elu bisa bangun pagi! noh, liat noh.. ini udah jam berape? lu kaga mau ke sekolah? lu kaga mau sukses? bilang kalau kaga mau biar Emak kirim elu ke Kalimantan biar lu bisa kerja bantuin abang lu, si Saprin..”
“Ya ela, mak. Tega banget sih ama anak sendiri? Karjo kaga mau ke Kalimantan, Mak. Karjo mah mau sekolah biar bisa sukses, bisa banggain Emak sama Bang Saprin juga. Lagian, ini jam berapa sih, mak?”
“Apee?! jam berape? lu nanya jam berape? udah deh, lu bangun terus mandi biar badan lu wangian dikit baru lu ke sekolah sekarang sebelum lu ke kunci gerbang sama si satpam genit itu. Cepetan!”
“Iya iya, Mak. Oh, ya? jam weker Karjo mana, mak?,”
“Karjo, karjo! lu kayak kaga pernah tau aja ke mana semua jam weker elu kalau elu bangun pagi? noh! di sono!,” tunjuk Emak. Dan seperti biasa, jam weker Karjo yang baru dibeli tempo hari, sekarang rusak gara-gara dibanting Karjo sewaktu jam weker itu berdering. Karjo dengan lugunya tersenyum kepada Emak.
“Apaan lu senyam senyum gitu? udah, lu mandi sono udah telat banget lu, Karjo. Emak nunggu di ruang makan aja, yah? cepetan!,”
“Iya, Iya, mak,” sahut Karjo masih dengan matanya yang bengkak karena baru bangun.
Karjo anak yatim sejak ditinggal mati Ayahnya sewaktu Karjo masih kecil dulu. Sekarang, hanya ada dia dan Emaknya di rumah. Si Saprin, kakak laki-laki Karjo merantau ke Kalimantan buat nyari duit yang banyak. Di sana Saprin kerja di sebuah pabrik sebagai seorang karyawan. Tapi gaji bulanan Saprin tidak banyak, oleh karena itu Emak terpaksa buka warung kopi di depan rumah buat menambah pemasukkan duit. Emak juga tidak tega melihat Saprin kerja siang malam di kota orang demi membiayai sekolah Karjo dan biaya hidup mereka. Apalagi Emak tau kalau Saprin nyisihin sedikit uang buat dirinya yang kemudian sebagaian besar gajinya diberikan kepada Emak dan Karjo. Saprin dan Karjo meskipun keduanya saudara kandung, tetapi mereka mempunyai kepribadian yang berbeda. Saprin anak yang rajin bekerja, giat belajar dan berprestasi ketika ia di sekolah. Sedangkan Karjo, anak yang awut-awutan, nilai sekolah selalu merah, malas belajar tetapi Karjo juga anak yang baik dan patuh sama orang tua. Meskipun begitu, Emak sangat menyayangi keduanya, karena hanya mereka berdua yang Emak punya sekarang.
Karjo keluar kamar dengan pakaian seragam SMA dan tas selempang yang sering dipakainya ke sekolah. Berharap, ada makanan enak tersaji di meja, ternyata dugaannya meleset.
“Singkong? singkong rebus lagi, mak?,” tanya Karjo dengan raut kecewa.
“Iyee! emang tiap hari singkong rebus, kan? kenapa raut muka lu? emang lu berharapnya apa?,”
“Sekali-kali roti selai plus segelas susu, kek mak?,”
“Roti selai? susu? eh, singkong aja udah bagus buat kita, lu maunya roti selai sama susu? lu kata kita mampu beli makanan kayak gitu buat sarapan tiap hari? Jo, lu syukurin aja deh, atas makanan kita hari ini. Ini itu rezeki dari Allah buat kita, kaga baik mengeluh gitu. Udah, ye? lu makan aja daripada ntar di sekolah perut lu keroncongan?” tutur Emak sambil mengunyah singkong rebus. Karjo diam sesaat kemudian segera duduk di depan Emak ikut menikmati singkong rebus seperti pagi biasanya.
Dengan langkah kecil yang dipercepat, Karjo segera menaiki motor vespa putihnya yang sudah terparkir di depan rumah. Vespa itu adalah hadiah terakhir dari Almarhum Ayah Karjo. Karjo juga sayang sekali dengan vespa itu, karena sewaktu detik-detik terakhir Ayah Karjo, ia berjanji akan merawat vespa tersebut. Karena itu, setiap berangkat ke sekolah, Karjo selalu mengendarai vespanya. Setelah berpamitan kepada Emak, Karjo segera melaju dengan vespa putih kesayangannya yang mengeluarkan asap knalpot yang luar biasa mencemari udara pagi menyusuri jalanan berbatu menuju sekolahnya.
Sayangnya, sesampainya di sekolah, Karjo benar-benar terlambat seperti biasanya. Pagar sekolah terkunci rapat dan suasana sekolah sunyi senyap menandakan semua murid telah masuk ke kelasnya masing-masing. Karjo segera memarkir motornya di depan gerbang kemudian berusaha mendobrak-dobrak gerbang sekolah.
“Eh, eh! ngapain lu? dobrak-dobrak pagar sekolah, eh elu tau kaga kalau sekarang waktunya pagar terkunci, elu masih aja dobrak-dobrak sana sini. Sono, lu balik aja ke rumah,” teriak Satpam dengan raut wajah marah mengusir Karjo. Tetapi Karjo tidak menyerah.
“Yah, pak. Hari ini saya ada ulangan matematika,”
“Terus, gue harus bilang wow gitu?,”
“Ya udah, kalau mau bilang gitu bilang aja ga apa-apa, kok,”
“Eh Karjo!,” bentak satpam marah. Karjo terkejut bukan main, karena suara bentakan si satpam lebih cetar membahana dari pada suara Emak kalau bangunin dia ke sekolah.
“Ya Allah, masih ada juga ya suara yang ngalahin suara Emak?,” gumam Karjo.
“Eh, Karjo. Lu pulang aja deh, percuma. Gue kaga bakal ngizinin elu masuk. Lagian emang lu serius mau ngikut ulangan matematika? cuiih, paling tinggi nilai lu 4, iya, kan?,”
“Wa, wa, wa… ngehina nih. Pak, sorry yah, saya Karjo Budiman mengatakan bahwa apa yang bapak katakan tadi adalah… itu… BENAR!,” tuuuiiingg, satpam sekolah hampir terjungkir mendengar ucapan Karjo. Dikiranya Karjo akan mengelak, ternyata oh tenyata Karjo mengakui kalau itu benar.
“Pak, ayo dooong. Pliiisss, kali ini aja, biarin saya masuk. Yah, yah?,”
“Enak aja! kaga ada.. pokoknya gue kaga ngizinin lu masuk, salah sendiri datang telat..,”
“Ya ela Pak. Bantu orang dikit napa? dijamin deh, kalau bapak bantuin saya masuk, bapak akan dapat…,”
“Dapat ape? duit?,” tanya satpam dengan raut berseri-seri.
“Dapat.. pahala deh, pak.. kan menolong sesama, iya ga pak? hehe,” tawa Karjo. Satpam kembali mengeluarkan taringnya dan raut wajah marah sambil berdehem keras. Karjo tahu, sudah sering Karjo membujuk satpam buat bukain pagar, tapi hari ini sepertinya agak berbeda pikirnya.
“Yah… pak.. ayo dong.. kali ini aja, yah?,”
“Kaga bisa! perasaan dari kemarin elu bilangnya “kali ini aja, kali ini aja”.. lu pikir gue kaga tau modus elu? pokoknya kaga bisa!,”
“Ya udah deh, pak saya pulang aja. Padahal, kan ntar Emak saya mau ngantarin makan siang buat saya. Tapi karena bapak ngga ngizinin saya masuk, saya pulang aja deh. Terpaksa… Emak kaga datang sekolah deh hari ini,” kata Karjo sambil berbalik ke belakang hendak pergi tetapi dengan raut jahilnya. Dihitungnya dalam hati sampai tiga kali, satpam itu akan manggil dia kembali. Karjo, kan tahu satpam sekolahnya naksir sama Emak sejak ngantarin Karjo mendaftar SMA waktu itu. Sebaliknya, Emak eneg banget sama satpam itu sampai dikatain satpam genit karena selalu menggoda Emak.
“Satu… dua… tig…,” gumamnya dalam hati sambil menggerakkan mulutnya.
“Tunggu! Karjo, lu jangan pergi dulu. Iya deh, gue bukain elu gerbang tapi elu janji ye, besok kaga datang telat lagi?,” ucap satpam itu sambil membukakan pintu gerbang. Karjo tertawa jahil dari belakang kemudian berbalik dan memperbaiki ekspresi wajahnya seperti biasa.
“Saya janji deh, pak. Saya kan lelaki yang selalu nepatin janji, iya ga, pak?,”
“Tapi… elu serius kan kalau Emak lu mau datang bawain makan siang? lu kaga boong, kan? atau jangan-jangan elu punya modus, nih?,”
“Ya ela, pak. Masih aja yah su’uzon sama saya. Liat dong muka tanpa dosa ini,” kata Karjo sambil menunjuk wajahnya. “saya kaga boong, kok. Percaya, deh,”
“Ya udah, masuk sono! muka tanpa dosa kata lu? gue baru tahu ada muka jerawatan dibilang muka tanpa dosa?,”
“Jangan menghina dong, pak. Yah, walaupun emang bener sih, muka saya jerawatan, hihi. Okelah kalau begitu! saya masuk dulu, ya… dah…,” ucap Karjo kemudian masuk ke dalam lapangan sekolah dan berlari menuju kelasnya. Satpam hanya menatapnya kecut kemudian menutup gerbangnya lagi.
Karjo mengintip dari balik pintu kelasnya. Yang dilihatnya sosok guru berkacamata dan memiliki tatapan tajam setajam silet dengan tompel yang menempel di dagunya. Yap! dia Bu Yunita, guru matematika Karjo yang terkenal killer. Dia dijuluki wanita dengan tatapan seperti mata Elang dan tompel gede. Karjo kebingungan dan mencari cara agar bisa masuk ke dalam kelas tanpa diketahui Bu Yunita. Karjo kan tidak mau lagi dihukum berjemur di panas matahari hanya karena dirinya terlambat masuk kelas. Kulit sudah item, kalau dijemur lagi ntar kulit saya jadi gosong, pikirnya. Eh, ujung-ujungnya aksi nekat Karjo masuk kelas dengan mengendap-endap kayak maling ayam ketahuan juga kan dengan Bu Yunita. Dan kali ini Karjo meminta sedikit keringanan hukuman dari Bu Yunita. Awalnya Bu Yunita menolak mentah-mentah, namun berkat jurus merayu jitu yang dikeluarkan Karjo, maka keinginan Karjo dipenuhi. Karjo memang tidak jadi dijemur di lapangan sekolah, tetapi ia harus berlutut sambil mengangkat tangan ke atas di samping kelas. Meskipun begitu, ia bersyukur kulitnya tidak tersengat sinar matahari lagi. Karjo, Karjo… sudah kayak cewek yang lagi perawatan aja…
Lagi dihukum, tiba-tiba seorang cewek berjilbab cantik lewat. Langsung saja mata Karjo terperanjat dan bertanya-tanya, siapakah cewek secantik bidadari ini? dia juga bertanya-tanya emang ada juga cewek cantik di sekolahnya? mata Karjo tak lepas dari wajah cewek itu. Kulitnya bersinar menyilaukan mata, gumam Karjo. Cewek itu terlihat sangat anggun dan lembut dengan jilbab putih yang menutupi kepala hingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Tak terpikirkan olehnya, cewek itu berhenti di depannya kemudian tersenyum. “Ya ampun, anugerah apa yang telah Engkau berikan kepadaku di pagi ini, Ya Allah? Subhanallah, cantik sekali wanita ini. Soleha lagi. Mau gak ya dia taaruf sama saya?,” pikir Karjo. Emang dasar si Karjo suka ngayal ngga jelas.
“Assalamu’alaikum. Mas, numpang nanya. Kelas 3 Ipa 2 yang ini?,” tanya cewek itu sambil tersenyum kecil dan menunjuk ruangan kelas Karjo. Karjo kembali terpesona mendengar tutur kata cewek itu. Suaranya lembut sekali seperti wajahnya dan orangnya kelihatannya sopan dan sangat feminim. Kayaknya pas dengan kriteria wanita impian Karjo.
“Maaf, mas. Saya nanya, kelas 3 Ipa 2 kelasnya yang di sini, kan?,” tanyanya lagi masih dengan suara yang begitu lembut.
“Oh, em.. he, iya.. maaf, yah saya terpesona..,” ucap Karjo tak sadarkan diri. Dengan cepat Karjo menutup mulutnya karena tersadar dengan apa yang sudah dikatakannya.
“Iya? terpesona? maksudnya apa, ya?,”
“Oh ngga, ngga kok. Oh, ya kenalin saya Karjo Budiman,” ucap Karjo sambil menyerahkan tangannya ke depan seperti orang yang ingin berjabat. Cewek itu tersenyum lembut.
“Saya Mutia. Mutia Anggraeny, siswi baru di sini. Maaf, mas. Tangannya..?,” katanya tanpa membalas jabatan tangan Karjo. Dengan cepat Karjo menurunkan tangannya menyadari maksud cewek itu.
“Tapi.. Kok mas Karjo duduk di sini? kenapa ngga masuk?,” tanya Mutia sambil melongok ke dalam kelas.
“Oh, itu… anu… saya lagi dihukum gara-gara terlambat masuk kelas,” jujur Karjo sambil menampilkan deretan giginya. Mutia tersenyum lucu kemudian berpamitan untuk masuk ke kelas. Pandangan Karjo tak lepas dari Mutia. Beribu-ribu kali ia mengakui kalau Mutia itu cantik seperti bidadari di dalam hatinya. Sudah kayak pernah liat bidadari aja si Karjo. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Lama, Karjo tahu kalau dia ternyata jatuh cinta pada Mutia pada pandangan yang pertama. Padahal selama ini Karjo tidak pernah suka sama cewek dan tidak pernah berpacaran. Ternyata oh ternyata Mutialah cinta pertama dan cinta pada pandangan yang pertamanya. Belum pernah ia merasakan rasa seperti yang ia rasakan ketika melihat cewek cantik. Apalagi selama ini Karjo sering melihat cewek cantik tapi perasaannya biasa saja. Nantilah ketika melihat Mutia barulah perasaannya terasa aneh dan jantungnya berdegup tak karuan. Tapi apa Mutia juga punya perasaan yang sama kepada Karjo?
Sejak jatuh cinta kepada Mutia, Karjo mulai berubah sedikit demi sedikit. Dulu dia paling jarang ngerapihin badan sendiri. Sekarang dia mulai mencukur rambut gondrongnya dan mencukur kumis dan janggutnya yang mulai tumbuh. Bahkan Karjo mandi dua kali sehari yang awalnya ia mandi paling ke sekolah saja, itupun kalau lagi libur bisa-bisa Karjo ngga mandi-mandi, katanya mubazir air. Emang dasar si Karjo, paling banyak alasannya. Dia juga beli berbagai macam obat jerawat buat ngilangin jerawatnya yang sudah bertahun-tahun setia menempel di wajahnya. Karjo jadi suka bangun pagi dan sekarang Karjo jadi rajin beribadah, tiap hari sholat berjamaah di masjid kampung. Emak saja sampai kebingungan dengan perubahan drastis sikap Karjo. Emak sampai ngabarin Saprin tentang perubahan drastis sikap adik satu-satunya itu. Si Saprin hanya tersenyum dan mengatakan itu hal yang baik karena ia juga sudah lama menginginkan Karjo berubah menjadi lebih baik. Pokoknya Karjo sudah beda banget dengan Karjo yang dulu. Nilai pelajaran Karjo pun mulai meningkat paling tidak udah ngga pernah dapat merah lagi. Apa ini karena cinta pertamanya? you know well, lah…?
Sikap Karjo yang tidak pernah berubah adalah setia dengan vespa putihnya. Walau sekarang Karjo sudah ganteng dan bersih, vespa putih masih setia membawanya ke manapun ia pergi. Bahkan Karjo sering curhat tentang Mutia kepada vespanya yang dia beri nama “Vejo (VEspa KarJO)”. Karjo tetap masih sayang saja sama vespa putihnya. Tiap hari dimandiin sampai mengkilap seperti baru. Vejo selalu mendapat perawatan rutin di bengkel dekat sekolahnya. Bagi Karjo, Mutia dan Vejo sama-sama istimewa untuknya.
Namun siapa sangka? awalnya Mutia hanya menganggap Karjo sebagai seorang teman yang kekanak-kanakan dan lucu. Mutia senang dengan Karjo karena Karjo pandai melawak dan suka menghiburnya di sekolah. Mutia selalu tertawa dan merasa terhibur jika berada di dekat Karjo. Karjo bahkan sudah mengungkapkan perasaannya kepada Mutia lewat lawakannya namun Mutia tidak sadar kalau sebenarnya Karjo serius dengan lawakannya tersebut. Lama kelamaan, Mutia mulai menaruh hati sedikit demi sedikit kepada Karjo. Mutia juga sampai bingung kok bisa ia suka sama Karjo? padahal wajah Karjo tidak setampan laki-laki yang selama ini pernah menaruh hati padanya. Tapi ia sadar, yang membuat dirinya menyukai Karjo bukan karena tampangnya tapi karena kepribadian Karjo yang baik, pandai menghibur dan selalu membuat Mutia tertawa. Mutia juga merasa nyaman berada di dekat Karjo. Dia merasa kalau Karjo itu laki-laki tulus yang berbeda dengan laki-laki di luar sana yang hanya menganggapnya wanita cantik biasa.
Suatu hari Karjo menghampiri Mutia yang sedang duduk di bangku halaman sekolah. Seperti biasa, sebelum bertemu Mutia, pasti rambut dirapihin dulu sama ngecek napas bau apa kaga.
“Assalamu’alaikum, Mutia,” sapa Karjo sambil tersenyum. Mutia sedikit terkejut dengan kehadiran Karjo kemudian menjawab salam Karjo.
“Kamu kenapa, Mut? kok murung gitu? ada masalah, ya?,” tanya Karjo. Mutia menggeleng pelan.
“Terus? kok ngelamun sendirian aja? senyum dong, Mut. Biar aku bisa liat wajah cantik kamu, hehe,” goda Karjo sambil tersipu malu. Mutia tersenyum kecil.
“Karjo, aku boleh nanya sesuatu ngga sama kamu? tapi kamu ngga boleh nanya balik, kamu cukup tinggal jawab aja, kok,” kata Mutia. Karjo mengangguk kemudian duduk di depan Mutia dengan jarak yang sedikit jauh.
“Menurut kamu, aku ini wanita seperti apa sih?,” tanya Mutia. Karjo mengerutkan kening keheranan mendengar pertanyaan Mutia yang secara tiba-tiba.
“Maksud kamu nanya seperti itu..?,”
“Udah aku bilang kamu ngga perlu nanya balik. Dijawab aja cukup, kok,” sahut Mutia masih dengan suaranya yang lembut.
“Oke. Menurutku… kamu itu wanita yang baik, lembut, sopan lagi. dan yang utama kamu itu cantik lho,” kata Karjo sambil tersenyum. Mutia mengangkat pandangannya tapi dengan raut wajah yang sedikit berubah.
“Cantik?,”
“Iya. Waktu pertama kita ketemu saat aku dihukum dulu, aku itu terpesona banget lho sama kecantikan kamu. Aku sampai bertanya-tanya ini bidadari dari mana, yah? ini anugerah dari Allah yang luar biasa. Aku sampai niat banget berubah menjadi lebih baik karena kamu lho. Supaya aku bisa dekat sama kamu,” tutur Karjo. Mutia langsung berdiri dengan tatapan kesal. Karjo terlihat bingung melihat Mutia yang tiba-tiba berdiri.
“Oh, jadi kamu dekat sama aku hanya karena terpesona aja sama wajahku? kamu ngga tulus kan berteman sama aku? hanya karena aku cantik seperti yang kamu bilang, kamu jadi mau dekat-dekat aku. Kamu bahkan terpesona hanya karena wajah ini? aku pikir kamu itu melihatku bukan sekedar wanita dengan wajah cantik, ternyata kamu sama aja, Jo!,” timpal Mutia sedikit kesal dan nada bicaranya sedikit lebih tinggi. Karjo jadi kebingungan dengan sikap Mutia.
“Lho, Mut? bukan gitu. Bukan itu maksudku..,”
“Karjo. Aku kecewa sama kamu. Aku pikir kamu mau berteman denganku karena tulus, tapi hanya karena wajahku saja? aku itu sudah nyaman banget di dekat kamu karena aku itu ngelihat kamu bukan dari tampang. Aku kira kamu juga gitu ternyata aku salah besar,” ucap Mutia berlalu pergi dengan linangan air mata. Karjo hanya terdiam melihat Mutia berlalu. Sebenarnya Karjo senang mendengar kalimat yang barusan diucapkan Mutia, namun dia kebingungan karena Mutia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa karena Mutia diam-diam juga suka sama dia?
Selama di kelas, Mutia tidak menegur atau sekedar melempar senyum kepada Karjo. Karjo sendiri merasa aneh karena selama ini Mutia tidak pernah mengacuhkannya. Rejo, teman sebangku Karjo sampai keheranan melihat keduanya yang tadinya akrab menjadi asing seperti itu. Rejo kemudian mendatangi Karjo dan mempertanyakannya. Tapi sepertinya Karjo sedang tidak mood membicarakannya dengan orang lain. Untuk memancing sikap Karjo, Rejo punya ide.
“Karjo. Gue pinjem si Vejo, yah? bentar aja, lu kaga cemburu, kan kalau si Vejo gue pinjam entar aja,” kata Rejo. Sontak mendengar nama Vejo, Karjo melotot ke arah Rejo.
“Kaga bisa! awas aja lu kalau sampai ngapa-ngapain si Vejo. Lu ga boleh nyentuh dia. Dia itu spesial, ngga boleh seorang pun yang dekat-dekatin si Vejo kecuali aku,” Bentak Karjo sedikit keras. Rejo sampai menutup telinganya dengan wajah yang menahan tawa mendengar bentakan Karjo yang lebay minta ampun. Guru Bahasa Indonesia saja sampai berbalik menegur Karjo karena berteriak di kelas. Lebih parahnya lagi si Karjo ditertawain satu kelas karena tiba-tiba berteriak. Mutia yang mendengarnya merasa sedikit cemburu. Dia mengira Vejo adalah seorang gadis di sekolah ini, ternyata Vejo itu adalah motor vespanya Karjo.
Sepulang sekolah, Karjo berjalan di belakang Mutia sambil menatapnya. Lama-lama, Karjo memutuskan memberanikan diri ngomong langsung sama Mutia. Saat mereka melewati tempat parkir, Karjo memanggil Mutia.
“Mutia. Tunggu,” panggil Karjo. Mutia berhenti sejenak kemudian berjalan lagi. karjo pun segera berlari ke depan dan menghadang Mutia. Mutia sontak terkejut dengan tindakan Karjo.
“Mutia. Aku mau ngomong sama kamu. Sekarang!,”
“Maaf, Karjo. Aku buru-buru pulang. Assalamu’alaikum,” pamit Mutia. Karjo menahannya lagi.
“Aku bener-bener minta maaf kalau perkataan aku nyinggung perasaan kamu. Tapi kamu salah paham, Mut. Aku ngga berteman sama kamu karena kamu cantik, kok. Aku juga terpesona bukan hanya karena kamu cantik,”
“Karjo, kita ngga usah bahas ini lagi, yah? lupain aja,”
“Harus dibahas, Mut! aku ngga mau kamu salah paham sama aku. Kamu diemin aku kayak tadi udah buat aku ngga enak, lho, beneran. Nih aku kasih tau. Kalau memang aku berteman dan terpesona sama kamu hanya karena kamu cantik kenapa harus sama kamu aja yang aku dekat. Banyak kok di luar sana cewek yang cantik tapi aku ngga tertarik tuh. Kalau aku berteman dengan orang lain hanya karena kecantikannya, aku pasti udah dekat sama semua cewek bukan hanya sama kamu doang. Kamu itu spesial, Mut. Aku ngga bisa nemuin wanita kayak kamu di luar sana,” tutur Karjo.
“Bisa, kok. Ada, kan wanita yang spesial di mata kamu selain aku? aku tidak sangka aja, lawakan kamu kalau bilang kamu suka sama aku itu beneran, ternyata cuma lelucon saja. Maaf, Karjo. Aku harus pergi. Assalamu’alaikum,”
“Mutia! aku beneran suka sama kamu. Sejak pertama kali. Dan pertama kalinya aku suka sama cewek yaitu kamu. Tapi aku ngga bisa ngungkapin dengan serius takut kamu nolak. Makanya aku buat lewat lawakan, tapi aku sebenarnya berharap lho kamu nganggapnya serius. Aku tahu kamu itu wanita yang soleha, aku ngga bakal minta kamu jadi pacarku kok. Toh kita juga masih sekolah, kan? aku cuma minta kamu jadi orang yang aku sayang. Itu aja cukup. Kamu percaya, yah?,” pinta Karjo sambil menatap Mutia. Mutia tetap menunduk tidak berani menatap wajah Karjo.
“Kamu beneran mengatakannya? kamu serius?,”
“Iya, aku serius. Aku ngga boong, beneran. Percaya, yah?,” pinta Karjo.
“Tapi, kan bukan hanya aku yang spesial di mata kamu. Ada wanita lain, kan?,”
“Wanita lain? ngga ada, Mut. Itu cuma kamu aja. Aku berteman dengan kamu itu tulus, kok. Aku ngga punya maksud apa-apa dekat sama kamu,”
“Tapi tadi.. di kelas.. aku denger kamu sama Rejo ngerebutin cewek yang namanya Vejo, iya, kan?,” tanya Mutia kembali dengan suaranya yang lembut. Karjo terkejut mendengar pertanyaan Mutia. Perlahan-lahan Karjo tertawa keras membuat Mutia kebingungan dengan reaksi Karjo.
“Hahahaha… oh, jadi karena itu toh? kamu cemburu, ya? ngaku aja, deh. Kamu juga suka, kan sama aku. Ayo ngaku,” goda Karjo dengan raut wajah merasa lucu. Mutia terkejut mendengar perkataan Karjo. Mutia menggeleng cepat sambil tertunduk malu.
“Udah lah, Mut. Kamu ngga usah boong, dosa lho !tinggal bilang kamu suka sama aku aja ribet?,” godanya.
“Aku ngga cemburu, kok,”
“Oh, yea? terus, kamu kok ogah banget gara-gara bukan hanya kamu aja yang spesial tapi si Vejo juga?,”
“Karjo, kamu jangan buat aku kikuk dong. Aku ngga cemburu, aku cuma nanya kalau ada, kan cewek lain yang namanya Vejo spesial di mata kamu?,” elak Mutia. Karjo kembali tertawa.
“Kamu tau ngga Vejo itu siapa? vejo itu… ini!,” tunjuk Karjo. Telunjuk Karjo tepat mengenai motor vespa putihnya yang terparkir rapi di parkiran sekolah. Mutia terkejut dan terlihat kebingungan.
“Vespa?,” tanya Mutia.
“Iya. Vejo itu motor vespa aku, hadiah dari Almarhum Ayahku dulu. Vejo (VEspa KarJO). Kalian berdua sama-sama spesial. Yang satu vespa kesayanganku dan yang satu lagi… wanita pujaanku. Hehehe,” goda Karjo lagi. Mutia tersenyum malu mendengarnya.
“Udah ngga ada lagi yang disalah pahamkan, kan? mulai sekarang jangan salah paham lagi, yah? yang paling penting, kamu jangan cemburu lagi, yah?,” godanya.
“Ih, Karjo apaan sih. Siapa yang cemburu? aku ngga cemburu,” elak Mutia. Karjo tertawa melihat ekspresi Mutia yang tersipu malu.
“Ya udah, sekarang kita pulang, yuk. Aku antarin kamu pulang, yah? kita pulang bareng sama si Vejo, ok?,” kata Karjo sambil memakai helmnya. Mutia mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian mereka berdua pulang bersama dengan mengendarai Vejo dan saat itu hati Karjo bahagia sekali bisa pulang bersama dengan wanita yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya. Dalam hati Karjo berdoa agar berjodoh dengan Mutia suatu hari nanti dan membangun rumah tangga bersama (khayalan tingkat tinggi Karjo).
Sayangnya kisah cinta satpam sekolah dan Emak tidak berjalan mulus seperti Karjo karena ternyata Emak tetap eneg dengan satpam sekolah. Terpaksa satpam sekolah harus memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Si Saprin juga rencananya mau pulang ke kampung halaman dan memiliki berita gembira karena jabatan Saprin bukan sebagai karyawan biasa lagi tetapi jabatannya telah dinaikkan sepenuhnya. Hingga kini, di mata Karjo “My Girl and My Vespa” sama-sama spesial dan itu semua tidak membuat Mutia cemburu lagi. di perjalanan pulang, karjo mengatakan kepada Mutia yang membuatnya kembali tersipu malu:
“You are my Girl, I’am your Boy and Vejo is my Vespa “
Penulis Cerita: Rizka Dwigrah. P